Konektivitas Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan sebagai Mesin Transformasi Ekonomi Jambi 2045

WIB
ist

Oleh

Prof. Dr. Ir. Suandi,. M.Si., IPU

Guru Besar Universitas Jambi dan Tenaga Ahli Gubernur Jambi

Pendahuluan

Pembangunan konektivitas wilayah Kerinci dan Kota Sungai Penuh merupakan salah satu agenda strategis dalam mempercepat transformasi ekonomi kawasan barat Provinsi Jambi. Secara geografis, Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh mempunyai posisi strategis karena menjadi simpul penghubung Provinsi Jambi dengan Provinsi Sumatera Barat dan Bengkulu. Namun, karakter geografis pegunungan, kondisi topografi yang kompleks, keterbatasan jaringan jalan berkapasitas tinggi, serta tingginya risiko longsor dan gangguan hidrometeorologi menyebabkan biaya perjalanan, biaya logistik, dan ketidakpastian waktu tempuh relatif tinggi.

Dalam konteks tersebut, gagasan pembangunan jalan layang atau fly over, jalan tembus, viaduk, terowongan, maupun peningkatan trase jalan eksisting Kerinci/Sungai Penuh menuju Bungo dan Tapan perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan Koridor Konektivitas Strategis Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan. Orientasi utamanya bukan sekadar membangun infrastruktur fisik, tetapi menciptakan jaringan transportasi yang mampu memperpendek waktu tempuh, meningkatkan keandalan perjalanan, menurunkan biaya distribusi, memperluas akses penduduk terhadap pusat pelayanan, memperkuat rantai pasok komoditas pertanian, serta meningkatkan daya saing pariwisata Kerinci dan Sungai Penuh.

Gagasan tersebut memiliki relevansi kuat dengan perkembangan kebijakan nasional. RPJMN 2025–2029 menempatkan pembangunan kewilayahan dan penguatan konektivitas sebagai instrumen untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah. Dalam agenda pembangunan wilayah Sumatera, Bappenas juga mengidentifikasi masih terbatasnya kapasitas dan kualitas infrastruktur, terutama konektivitas antarwilayah, sebagai isu strategis dan mendorong pembangunan serta pengembangan infrastruktur konektivitas darat, laut, dan udara dalam kerangka integrasi wilayah Sumatera.

Bagi Kerinci dan Sungai Penuh, urgensi tersebut semakin nyata karena jalur Sungai Penuh–Tapan merupakan akses penting yang menghubungkan Jambi dengan Pesisir Selatan, Sumatera Barat, bahkan selanjutnya dengan kawasan Bengkulu. Pada 2026, ruas tersebut masih mengalami gangguan akibat longsor. Pada April 2026, longsor dan pohon tumbang sempat mengganggu akses pada sejumlah titik dan BPJN Jambi harus melakukan penanganan darurat agar jalan kembali fungsional. Dengan demikian, pembangunan koridor baru atau peningkatan koridor eksisting harus diarahkan pada konsep shorter, safer, faster, greener, and more reliable connectivity. Artinya, jalan yang dibangun bukan hanya lebih pendek secara geometrik, tetapi juga lebih aman, lebih cepat, lebih tahan terhadap bencana, lebih rendah biaya logistiknya, dan tetap menjaga fungsi ekologis kawasan.

Tujuan Strategis Pembangunan

Tujuan utama proyek adalah membangun konektivitas regional yang mampu memperpendek waktu perjalanan dan meningkatkan aksesibilitas antara Kerinci/Sungai Penuh dengan Bungo dan Tapan. Secara operasional, tujuan tersebut meliputi: mengurangi waktu tempuh; menurunkan biaya transportasi; meningkatkan keandalan perjalanan; meningkatkan keselamatan; memperlancar angkutan barang; memperluas pasar produk pertanian; memperkuat akses masyarakat terhadap pendidikan, kesehatan dan pelayanan pemerintahan; meningkatkan kunjungan wisatawan; memperkuat hubungan ekonomi lintas kabupaten dan provinsi; menciptakan pusat-pusat pertumbuhan baru; serta meningkatkan ketahanan jaringan terhadap bencana. Dengan demikian, proyek ini dapat dirumuskan sebagai Regional Connectivity and Economic Integration Project bagi kawasan barat Provinsi Jambi.

Arah Kebijakan Transformasi Ekonomi Jambi 2045

Kebijakan utama adalah menggeser paradigma dari road construction menjadi connectivity development. Ukuran keberhasilan tidak hanya kilometer jalan yang dibangun, tetapi perubahan waktu tempuh, biaya logistik, aksesibilitas penduduk, jumlah perjalanan, volume perdagangan, kunjungan wisatawan, dan pertumbuhan ekonomi kawasan. Penelitian tentang perubahan aksesibilitas menunjukkan bahwa dampak pembangunan jalan terhadap pembangunan lokal dapat berbeda antarwilayah sehingga lokasi, skala, dan karakteristik wilayah harus menjadi pertimbangan dalam evaluasi. Setiap alternatif trase harus diuji berdasarkan kemampuan mengurangi travel time dan vehicle operating cost. Pemerintah harus menetapkan target kuantitatif, misalnya persentase penurunan waktu perjalanan dan biaya angkutan barang setelah proyek beroperasi. Kecepatan tanpa keandalan tidak cukup. Jalur yang cepat tetapi sering tertutup longsor tetap menghasilkan biaya ekonomi tinggi. Karena itu, desain harus memasukkan climate resilience, redundancy, perlindungan lereng, drainase, sistem pemantauan bencana, dan rute alternatif.

Kawasan TNKS dan ekosistem penting lainnya harus menjadi constraint dalam penentuan trase, bukan sekadar aspek yang diperiksa setelah trase ditetapkan. Kebijakan harus menerapkan prinsip avoid first dan memprioritaskan peningkatan koridor yang sudah ada apabila pembukaan trase baru menghasilkan dampak ekologis besar. Jalan harus dikaitkan dengan sentra pertanian, kawasan agroindustri, pasar, destinasi wisata, UMKM, terminal logistik, dan pusat pelayanan publik. Studi di Indonesia menunjukkan hubungan antara kualitas infrastruktur jalan dan aktivitas ekonomi lokal; bahkan kualitas jalan dapat memengaruhi penciptaan lapangan kerja dan pendapatan. Konektivitas harus diarahkan agar manfaat tidak hanya dinikmati Kota Sungai Penuh atau pusat Kabupaten Kerinci. Desa-desa di sepanjang koridor harus memperoleh akses terhadap pasar, pendidikan, kesehatan, pariwisata, dan kesempatan kerja. Dengan demikian, proyek harus menggunakan prinsip inclusive connectivity.

Sungai Penuh–Tapan harus dipandang sebagai koridor strategis Jambi–Sumatera Barat–Bengkulu, sedangkan Kerinci–Bungo sebagai koridor yang menghubungkan kawasan produksi pegunungan dengan pusat distribusi Jambi dan jaringan ekonomi Sumatera. Kolaborasi lintas daerah menjadi sangat penting. Pada Mei 2026, Kabupaten Bungo, Kabupaten Kerinci, dan Kota Sungai Penuh bahkan telah memperkuat kerja sama terkait akses penerbangan melalui Bandara Muara Bungo. Hal tersebut menunjukkan adanya kebutuhan dan peluang membangun ekosistem konektivitas yang lebih luas daripada sekadar jalan. Karena proyek jalan layang, viaduk, dan terowongan di kawasan pegunungan berpotensi membutuhkan investasi besar, pembiayaan perlu dikaji melalui kombinasi APBN, APBD, DAK, pembiayaan pembangunan, KPBU apabila memenuhi persyaratan, dan sumber pembiayaan lain yang sesuai regulasi. Pelaksanaan proyek harus menggunakan pendekatan phasing: studi dan readiness criteria, desain, pembebasan lahan, pembangunan segmen prioritas, kemudian ekspansi. Konstruksi harus mengacu pada prinsip pembangunan berkelanjutan. Ditjen Bina Marga telah memiliki Pedoman 15/P/BM/2023 tentang persyaratan teknis konstruksi berkelanjutan bidang jalan yang mencakup tahap perencanaan, pemrograman, konsultansi, konstruksi, operasi, dan pemeliharaan.

Dalam perspektif Jambi 2045, pembangunan jalan Kerinci/Sungai Penuh–Bungo dan Sungai Penuh–Tapan harus ditempatkan sebagai bagian dari strategi transformasi ekonomi wilayah barat Jambi. Koridor tersebut dapat menjadi penghubung empat fungsi utama: sentra produksi pertanian – agroindustri – pariwisata – pasar regional. Dengan konektivitas yang lebih baik, komoditas tidak hanya keluar sebagai bahan mentah, wisatawan tidak hanya datang untuk singgah, dan masyarakat tidak hanya menjadi konsumen pusat pertumbuhan. Koridor harus menciptakan nilai tambah lokal melalui pengolahan, perdagangan, jasa, pariwisata, logistik, dan ekonomi kreatif.

Dampak Ekonomi yang Diharapkan

Dampak pertama adalah penurunan biaya transportasi. Ketika waktu perjalanan dan konsumsi bahan bakar berkurang, biaya distribusi produk juga menurun. Dampak kedua adalah perluasan pasar. Petani Kerinci dapat mengakses pasar yang lebih luas, sedangkan pelaku usaha di Bungo, Sumatera Barat, dan Bengkulu memperoleh akses yang lebih mudah terhadap produk Kerinci. Dampak ketiga adalah peningkatan investasi. Infrastruktur transportasi mengurangi biaya transaksi dan meningkatkan daya tarik lokasi usaha.

Dampak berikutnya adalah penciptaan lapangan kerja melalui konstruksi, perdagangan, logistik, pariwisata, jasa transportasi, UMKM, dan agroindustri. Dampak kelima adalah peningkatan produktivitas wilayah. Jalan yang lebih baik membuat perjalanan tenaga kerja, barang, jasa, dan informasi menjadi lebih efisien. Studi terbaru di Indonesia juga menunjukkan bahwa infrastruktur jalan mempunyai hubungan dengan aktivitas ekonomi lokal dan mobilitas masyarakat. Kustanto dan Mahi (2025), misalnya, menggunakan data mobilitas untuk menunjukkan keterkaitan infrastruktur jalan dengan aktivitas ekonomi lokal di berbagai provinsi Indonesia.

Pembangunan konektivitas berpotensi mengubah Kerinci dan Sungai Penuh dari destinasi yang relatif remote menjadi bagian dari jaringan destinasi regional Sumatera. Koridor Sungai Penuh–Tapan dapat membentuk paket wisata lintas wilayah Kerinci–Pesisir Selatan–Sumatera Barat–Bengkulu. Sementara koridor Kerinci–Bungo dapat menghubungkan destinasi wisata pegunungan dengan pusat ekonomi dan jaringan transportasi di Bungo. Namun, peningkatan aksesibilitas juga harus dikendalikan. Akses yang terlalu cepat tanpa pengendalian daya dukung dapat meningkatkan tekanan terhadap lingkungan dan destinasi. Karena itu, pembangunan jalan harus diintegrasikan dengan carrying capacity, pengelolaan sampah, air bersih, sanitasi, tata ruang wisata, dan perlindungan kawasan konservasi.

Namun demikian, risiko utama proyek meliputi tingginya biaya konstruksi, pembebasan lahan, longsor, gempa bumi, kerusakan lereng, dampak terhadap TNKS, konflik sosial, perubahan tata guna lahan, biaya pemeliharaan, serta kemungkinan volume lalu lintas lebih rendah daripada proyeksi. Mitigasinya adalah menggunakan studi geologi dan geoteknik yang mendalam, scenario-based traffic forecasting, analisis sensitivitas ekonomi, desain tahan bencana, teknologi pemantauan lereng, konsultasi publik, pendekatan avoid–minimize–mitigate–restore, serta pembangunan bertahap. Hal yang sangat penting adalah tidak menetapkan fly over sebagai solusi sejak awal. Studi harus membuktikan apakah fly over benar-benar memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan yang lebih tinggi dibandingkan alternatif lain.

Keberhasilan proyek ini memerlukan kelembagaan lintas wilayah karena melibatkan Pemerintah Provinsi Jambi, Pemerintah Kabupaten Kerinci, Pemerintah Kota Sungai Penuh, Pemerintah Kabupaten Bungo, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Pemerintah Provinsi Bengkulu, pemerintah pusat, BPJN, Bappenas, Kementerian Perhubungan, Kementerian Lingkungan Hidup, BB TNKS, serta masyarakat. Disarankan dibentuk Forum Konektivitas Barat Jambi yang berfungsi menyelaraskan perencanaan, pembiayaan, pembangunan, pengendalian lingkungan, dan evaluasi proyek. Forum tersebut dapat mengembangkan single connectivity master plan untuk Koridor Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan.

Hasil akhir bahwa pembangunan fly over atau jalan tembus Kerinci/Sungai Penuh–Bungo dan Sungai Penuh–Tapan merupakan gagasan strategis yang mempunyai potensi besar untuk memperkuat konektivitas wilayah barat Provinsi Jambi. Namun, proyek tersebut harus dipahami sebagai proyek transformasi konektivitas regional, bukan sekadar proyek pembangunan jalan. Urgensi pembangunan semakin kuat karena wilayah Kerinci dan Sungai Penuh mempunyai potensi pertanian, agroindustri, pariwisata, ekonomi kreatif, dan jasa yang besar, tetapi masih menghadapi hambatan geografis dan kerentanan jaringan transportasi. Gangguan longsor pada jalur Sungai Penuh–Tapan pada 2025–2026 memperlihatkan pentingnya membangun jaringan yang tidak hanya lebih cepat tetapi juga lebih resilien.

Strategi yang paling rasional adalah melakukan comparative feasibility assessment antara peningkatan jalan eksisting, jalan tembus, fly over/viaduk, terowongan, dan kombinasi beberapa alternatif. Keputusan investasi harus didasarkan pada benefit-cost ratio, pengurangan waktu tempuh, pengurangan biaya logistik, peningkatan keselamatan, dampak sosial, dampak ekologis, risiko bencana, dan kemampuan membangkitkan aktivitas ekonomi. Dalam perspektif Jambi 2045, proyek ini dapat menjadi salah satu game changer transformasi ekonomi apabila dikembangkan sebagai Green, Smart, Resilient and Inclusive Connectivity Corridor. Koridor tersebut harus menghubungkan sentra produksi pertanian dengan agroindustri, pasar, pusat logistik, destinasi wisata, dan simpul transportasi regional. Dengan pendekatan tersebut, pembangunan jalan tidak berhenti pada tujuan "memperpendek jarak", tetapi menghasilkan perpendekan jarak ekonomi antara masyarakat Kerinci dan Sungai Penuh dengan pasar, investasi, pelayanan publik, teknologi, dan peluang ekonomi. Inilah nilai strategis terbesar pembangunan konektivitas Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan menuju Transformasi Ekonomi Jambi 2045.

Penutup

Pembangunan konektivitas Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan merupakan salah satu agenda strategis yang memiliki arti penting dalam membangun fondasi transformasi ekonomi Provinsi Jambi menuju 2045. Posisi Kerinci dan Kota Sungai Penuh yang berada di kawasan pegunungan dengan karakter geografis yang kompleks menjadikan konektivitas bukan sekadar persoalan transportasi, tetapi merupakan faktor fundamental yang menentukan kemampuan masyarakat, pelaku usaha, komoditas, wisatawan, investasi, dan pelayanan publik untuk bergerak secara lebih cepat, aman, murah, dan andal. Karena itu, pembangunan koridor Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan perlu ditempatkan dalam perspektif pembangunan wilayah jangka panjang yang mengintegrasikan infrastruktur, ekonomi, lingkungan, teknologi, dan kelembagaan.

Dalam perspektif tersebut, makna strategis konektivitas tidak berhenti pada pembangunan jalan baru, jalan tembus, fly over, viaduk, terowongan, atau peningkatan jalan eksisting. Infrastruktur fisik hanyalah instrumen awal untuk menghasilkan economic connectivity, yaitu kemampuan suatu wilayah untuk mengakses pasar, pusat produksi, pusat distribusi, investasi, teknologi, tenaga kerja, pelayanan publik, serta jaringan ekonomi regional dengan biaya dan waktu yang semakin rendah. Dengan demikian, keberhasilan pembangunan koridor tidak seharusnya diukur terutama berdasarkan berapa kilometer jalan yang dibangun, tetapi berdasarkan seberapa besar pembangunan tersebut mampu memperpendek waktu perjalanan, menurunkan biaya logistik, meningkatkan keandalan jaringan, memperluas pasar, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan memiliki peluang untuk menjadi mesin transformasi ekonomi Jambi 2045 karena koridor tersebut berada pada persilangan berbagai fungsi ekonomi dan wilayah. Di satu sisi, Kerinci dan Sungai Penuh memiliki basis produksi pertanian, perkebunan, hortikultura, pangan, kopi, kayu manis, kentang, sayuran, serta komoditas bernilai tinggi lainnya. Di sisi lain, Bungo memiliki posisi penting sebagai salah satu simpul perdagangan dan distribusi di Provinsi Jambi, sedangkan Tapan memiliki arti strategis sebagai pintu konektivitas menuju Pesisir Selatan, Sumatera Barat, dan jaringan wilayah Bengkulu. Integrasi keempat kawasan tersebut dapat membentuk suatu jaringan ekonomi yang menghubungkan sentra produksi–agroindustri–logistik–pasar–pariwisata dalam satu sistem regional.

Konektivitas yang lebih baik akan mengubah cara ekonomi kawasan barat Jambi bekerja. Selama ini, jarak geografis, kondisi topografi, risiko longsor, serta keterbatasan jaringan jalan berkapasitas dan berkeandalan tinggi menciptakan apa yang disebut sebagai travel time penalty. Akibatnya, jarak geografis yang sebenarnya tidak terlalu jauh dapat berubah menjadi jarak ekonomi yang panjang. Waktu perjalanan yang tinggi, biaya bahan bakar, biaya kendaraan, risiko kerusakan komoditas, ketidakpastian perjalanan, serta kemungkinan terputusnya jaringan akibat bencana meningkatkan generalized travel cost. Kondisi tersebut pada akhirnya mengurangi daya saing komoditas, mempersempit radius pasar, dan membatasi mobilitas penduduk serta investasi. Oleh sebab itu, pembangunan koridor harus diarahkan untuk menciptakan prinsip shorter, safer, faster, greener, and more reliable connectivity. Jalan yang dibangun harus lebih pendek secara ekonomi, bukan hanya secara geometrik; lebih aman bagi pengguna; lebih cepat dalam menghubungkan pusat-pusat aktivitas; lebih hijau dalam penggunaan ruang dan perlindungan ekosistem; serta lebih andal menghadapi gangguan bencana. Konsep ini menjadi sangat penting karena pengalaman gangguan longsor pada jalur Sungai Penuh–Tapan pada 2025–2026 memperlihatkan bahwa konektivitas kawasan pegunungan sangat rentan terhadap gangguan hidrometeorologi. Karena itu, investasi konektivitas harus sekaligus menjadi investasi dalam resilience infrastructure.

Dalam konteks Jambi 2045, pembangunan koridor juga harus mengubah paradigma dari road construction menuju connectivity development. Paradigma pertama cenderung melihat jalan sebagai produk fisik, sedangkan paradigma kedua memandang jalan sebagai bagian dari sistem ekonomi wilayah. Jalan harus terhubung dengan pusat produksi, kawasan agroindustri, pasar, terminal logistik, destinasi wisata, UMKM, pusat pelayanan pendidikan dan kesehatan, serta simpul transportasi lainnya. Dengan demikian, jalan tidak berhenti sebagai infrastruktur mobilitas, tetapi menjadi economic corridor yang menghasilkan aktivitas ekonomi baru di sepanjang lintasannya.

Koridor Kerinci–Bungo memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai Agricultural Production–Processing–Logistics Corridor. Konsep tersebut berarti bahwa pembangunan jalan harus diikuti oleh pengembangan pusat pengumpulan komoditas, agro-logistics hub, cold chain, gudang, terminal barang, pasar induk regional, serta fasilitas pengolahan. Dengan sistem tersebut, petani tidak lagi hanya menjual produk primer, tetapi memperoleh kesempatan untuk masuk ke rantai nilai yang lebih tinggi melalui pengolahan, pengemasan, standardisasi, branding, distribusi, dan pemasaran digital. Infrastruktur konektivitas dengan demikian menjadi pengungkit hilirisasi pertanian dan agroindustri di kawasan barat Jambi, sedangkan koridor Sungai Penuh–Tapan memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai koridor perdagangan, pariwisata, dan konektivitas lintas provinsi. Akses yang lebih baik dapat memperkuat hubungan Kerinci dan Sungai Penuh dengan Pesisir Selatan dan Sumatera Barat serta memperluas jaringan ekonomi menuju Bengkulu. Dalam sektor pariwisata, konektivitas tersebut dapat membentuk paket perjalanan lintas wilayah yang mengintegrasikan destinasi alam, budaya, geopark, pegunungan, ekowisata, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, wisatawan tidak hanya mengunjungi satu destinasi, tetapi bergerak dalam suatu jaringan destinasi regional yang menciptakan multiplier effect bagi hotel, restoran, transportasi, UMKM, ekonomi kreatif, dan masyarakat lokal.

Namun, transformasi ekonomi berbasis konektivitas tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan aspek ekologis. Sebagian gagasan koridor Kerinci–Bungo dan Sungai Penuh–Tapan memiliki keterkaitan dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan ekosistem penting lainnya. Karena itu, pembangunan harus menerapkan prinsip avoid–minimize–mitigate–restore. Kawasan sensitif harus terlebih dahulu dihindari. Apabila tidak dapat dihindari, dampaknya harus diminimalkan; dampak yang tersisa harus dimitigasi; dan kerusakan yang tidak dapat dihindari harus dipulihkan. Pendekatan tersebut menegaskan bahwa konektivitas ekonomi Jambi 2045 harus dibangun sebagai green connectivity, bukan konektivitas yang mengorbankan modal alam.  Konsekuensinya, pembangunan fly over, viaduk, maupun terowongan tidak boleh ditetapkan sebagai solusi sejak awal. Masing-masing merupakan alternatif teknologi yang harus dibandingkan secara objektif dengan peningkatan jalan eksisting, perbaikan geometrik, jalan tembus, atau kombinasi beberapa alternatif. Pilihan investasi harus didasarkan pada benefit-cost ratio, pengurangan waktu perjalanan, pengurangan biaya logistik, keselamatan, risiko bencana, dampak sosial, dampak ekologis, kebutuhan pemeliharaan, serta potensi penciptaan aktivitas ekonomi. Pendekatan comparative feasibility assessment menjadi penting agar investasi besar yang dilakukan benar-benar menghasilkan manfaat sosial-ekonomi yang sebanding atau lebih besar daripada biaya yang ditanggung masyarakat dan pemerintah.

Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah ketahanan bencana. Koridor pegunungan harus dirancang bukan hanya agar berfungsi dalam kondisi normal, tetapi juga mampu mempertahankan fungsi ketika menghadapi hujan ekstrem, longsor, kerusakan lereng, gempa, maupun gangguan jaringan. Karena itu, sistem pemantauan lereng, early warning system, sensor pergerakan tanah, kamera, weather station, sistem informasi lalu lintas, serta teknologi Internet of Things perlu menjadi bagian dari desain koridor. Dalam jangka panjang, konsep Smart Road Corridor dapat dikembangkan melalui integrasi sensor lalu lintas, informasi cuaca, deteksi longsor, GPS kendaraan logistik, CCTV, variable message sign, aplikasi informasi perjalanan, digital twin, dan predictive maintenance.

Konektivitas juga harus bersifat inclusive connectivity. Manfaat pembangunan tidak boleh hanya terkonsentrasi di Kota Sungai Penuh, pusat Kabupaten Kerinci, atau pusat-pusat perdagangan di Bungo. Desa-desa di sepanjang koridor harus memperoleh manfaat berupa akses yang lebih baik terhadap pasar, pendidikan, kesehatan, pekerjaan, pariwisata, dan pelayanan pemerintahan. Karena itu, pembangunan jalan perlu diikuti pengembangan angkutan umum, bus antarkota, angkutan wisata, angkutan komoditas, park-and-ride, fasilitas keselamatan, dan simpul pelayanan masyarakat. Dengan pendekatan ini, konektivitas menjadi instrumen pemerataan kesempatan ekonomi, bukan sekadar sarana mempercepat perpindahan kendaraan.

Dalam kerangka pembangunan Jambi 2045, manfaat ekonomi yang diharapkan dari koridor ini bersifat multidimensional. Pertama, terjadi penurunan biaya transportasi dan logistik. Kedua, terjadi perluasan market radius bagi petani, UMKM, dan pelaku agroindustri. Ketiga, meningkatnya daya tarik investasi karena biaya transaksi dan aksesibilitas lokasi menjadi lebih baik. Keempat, terbuka lapangan kerja baru dalam konstruksi, perdagangan, logistik, transportasi, pariwisata, jasa, UMKM, dan agroindustri. Kelima, meningkatnya produktivitas wilayah karena mobilitas barang, manusia, jasa, dan informasi menjadi lebih efisien.  Lebih jauh, konektivitas tersebut dapat memperpendek jarak ekonomi antara kawasan barat Jambi dengan pusat-pusat pertumbuhan di Sumatera. Konsep ini lebih penting daripada sekadar memperpendek jarak fisik. Jarak ekonomi akan semakin pendek apabila petani dapat menjual produknya ke pasar yang lebih luas, wisatawan dapat mencapai destinasi dengan lebih mudah, investor memperoleh kepastian akses, pelaku UMKM memperoleh jaringan distribusi, masyarakat mendapatkan pelayanan publik dengan waktu yang lebih singkat, dan informasi serta teknologi dapat mengalir dengan lebih cepat. Dengan demikian, pembangunan konektivitas secara langsung mendukung transformasi struktur ekonomi daerah.

Pada akhirnya, pembangunan Koridor Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan harus dipandang sebagai sebuah platform transformasi ekonomi wilayah, bukan proyek infrastruktur yang berdiri sendiri. Infrastruktur jalan merupakan enabler, sedangkan transformasi ekonomi terjadi ketika infrastruktur tersebut dihubungkan dengan produksi, hilirisasi, logistik, perdagangan, pariwisata, investasi, digitalisasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, pembangunan koridor harus dilaksanakan secara simultan dengan pengembangan agro-logistics hub, kawasan agroindustri, pusat UMKM, destinasi wisata, fasilitas pelayanan publik, transportasi umum, dan sistem ekonomi digital.

Implementasi menuju 2045 perlu dilakukan secara bertahap. Tahap awal diarahkan pada pre-feasibility study, feasibility study, survei lalu lintas, topografi, geologi, hidrologi, geoteknik, kajian lingkungan, konservasi, sosial, tata ruang, kepemilikan lahan, analisis ekonomi, dan pemodelan lalu lintas. Tahap berikutnya diarahkan pada pembangunan segmen prioritas yang memiliki benefit-cost ratio tinggi, risiko teknis terkendali, serta kemampuan besar dalam menghilangkan bottleneck. Setelah jaringan dasar terbentuk, investasi diperluas menuju pusat logistik, agroindustri, destinasi wisata, terminal barang, rest area produktif, angkutan umum, dan digitalisasi koridor. Pada tahap akhir, seluruh jaringan diarahkan menjadi sistem ekonomi regional yang menghubungkan Kerinci dan Sungai Penuh dengan Bungo, Sumatera Barat, Bengkulu, serta jaringan ekonomi Sumatera.

Keberhasilan agenda tersebut membutuhkan tata kelola lintas wilayah yang kuat. Koridor ini tidak hanya menjadi kepentingan satu kabupaten atau satu provinsi karena jaringan tersebut melibatkan Provinsi Jambi, Kerinci, Kota Sungai Penuh, Bungo, Sumatera Barat, Pesisir Selatan, Bengkulu, pemerintah pusat, BPJN, Bappenas, Kementerian Perhubungan, Kementerian Lingkungan Hidup, BB TNKS, dunia usaha, dan masyarakat. Oleh karena itu, gagasan pembentukan Forum Konektivitas Barat Jambi sebagaimana direkomendasikan dalam dokumen dapat menjadi instrumen koordinasi untuk menyelaraskan perencanaan, pembiayaan, pembangunan, pengendalian lingkungan, dan evaluasi. Forum tersebut juga dapat menjadi basis penyusunan single connectivity master plan Koridor Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan.  Dengan demikian, masa depan Koridor Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan tidak ditentukan oleh seberapa panjang jalan yang berhasil dibangun, tetapi oleh seberapa besar konektivitas tersebut mampu mengubah struktur kesempatan ekonomi masyarakat. Jalan harus menjadi jembatan yang menghubungkan petani dengan pasar, komoditas dengan industri, wisatawan dengan destinasi, UMKM dengan konsumen, tenaga kerja dengan kesempatan kerja, desa dengan pusat pelayanan, dan kawasan produksi dengan jaringan ekonomi regional. Pada titik inilah pembangunan konektivitas memperoleh makna strategis sebagai mesin transformasi ekonomi.

Kesimpulannya, Koridor Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan layak ditempatkan sebagai salah satu agenda game changer dalam Transformasi Ekonomi Jambi 2045, sepanjang dikembangkan dengan prinsip Green, Smart, Resilient, and Inclusive Connectivity Corridor. Koridor tersebut harus mampu menghubungkan sentra produksi pertanian dengan agroindustri, pusat logistik, pasar, destinasi wisata, dan simpul transportasi regional. Orientasi akhirnya bukan sekadar memperpendek jarak, melainkan memperpendek jarak ekonomi masyarakat Jambi dengan pasar, investasi, teknologi, pelayanan publik, dan peluang kesejahteraan. Inilah nilai strategis terbesar pembangunan konektivitas Kerinci–Sungai Penuh–Bungo–Tapan sebagai mesin transformasi ekonomi Jambi menuju Indonesia Emas 2045.(*)

BeritaSatu Network