Elma Theana-Hesti Haris dan Hj Ernawati Temani 150 Anak Yatim Nobar 'Anak-Anak Bambu' di Jambi

WIB
IST

Jambi — Selasa sore itu berbeda bagi sekitar 150 anak yatim di Kota Jambi. Mereka tak sekadar datang ke pusat perbelanjaan. Tak pula sekadar berjalan-jalan.

Satu per satu anak-anak itu masuk ke gedung bioskop. Tiket sudah disiapkan. Mereka tinggal duduk, menatap layar lebar dan menikmati film secara gratis.

Yang membuat suasana semakin istimewa, mereka tak sendiri.

Aktris sekaligus produser film Anak-Anak Bambu, Elma Theana, Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Provinsi Jambi Hj Hesnidar Haris, S.E., serta Ketua PW Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Provinsi Jambi Hj Ernawati, S.Ag., M.Pd., ikut mendampingi anak-anak tersebut.

Nonton bareng alias nobar Anak-Anak Bambu itu digelar di Bioskop XXI WTC Jambi, Selasa (18/8/2026). WTC XXI berada di Willtop Trade Center lantai 3, Jalan Sultan Thaha, Kota Jambi.

Ada sekitar 150 anak yatim yang mendapat kesempatan menonton tanpa dipungut biaya.

Bukan cuma diberi tiket.

Anak-anak itu ditemani.

Mereka diajak tertawa. Diajak menikmati suasana bioskop. Diajak merasakan pengalaman yang bagi sebagian anak mungkin tidak datang setiap hari.

Di tengah gemerlap layar lebar, acara itu membawa satu pesan sederhana: kebahagiaan anak yatim tak harus menunggu momentum tertentu.

Elma dan Film yang Lahir dari Anak Yatim

Kehadiran Elma Theana dalam nobar ini punya cerita tersendiri.

Sebab Anak-Anak Bambu bukan sekadar film yang dibintanginya atau dipromosikannya. Elma duduk sebagai produser melalui Theana Pictures. Film tersebut memang lahir dari kedekatannya dengan kehidupan anak-anak yatim.

Film itu terinspirasi dari kisah anak-anak yatim di Rumah Bambu. Elma sebelumnya mengungkapkan sudah sekitar 15 tahun aktif mendampingi anak yatim melalui komunitas Sisters Sholehah.

Bahkan, misi sosial menjadi salah satu alasan Elma membangun rumah produksi.

“Sudah 15 tahun saya mengurus anak yatim. Saya membuat PH ini agar bisa menjadi dapurnya anak-anak yatim,” kata Elma sebelumnya.

Maka ketika film itu diputar di hadapan 150 anak yatim di Jambi, pesannya terasa seperti kembali ke titik awal.

Dari anak yatim, menjadi film.

Lalu film itu kembali kepada anak-anak yatim.

Sejak awal, Elma memang berharap Anak-Anak Bambu tidak berhenti menjadi tontonan komersial. Tim produksi merancang rangkaian kegiatan sosial di sejumlah kota dengan melibatkan anak-anak yatim.

Pesannya bukan hanya soal bioskop.

Tetapi perhatian.

Kasih sayang.

Dan harapan.

Film Anak-Anak Bambu sendiri berkisah tentang kehidupan anak-anak yatim yang tinggal bersama di sebuah rumah sederhana. Mereka kemudian menghadapi ancaman kehilangan tempat tinggal. Dari situ cerita bergerak tentang keluarga, penerimaan, persahabatan serta perjuangan mempertahankan tempat yang mereka sebut rumah.

Film produksi Theana Pictures itu mulai tayang di bioskop pada 23 Juli 2026, bertepatan dengan momentum Hari Anak Nasional.

Ernawati: Anak-anak Harus Tahu Mereka Tidak Sendiri

Di sisi lain, kehadiran Hj Ernawati bersama anak-anak yatim bukan cerita baru.

Ketua PW ISMI Jambi itu dalam beberapa bulan terakhir memang cukup aktif dalam kegiatan sosial yang menyasar panti asuhan serta anak yatim dan dhuafa.

Menjelang pelantikan ISMI Jambi pada Juni 2026, misalnya, bantuan Hj Ernawati dan jajaran ISMI disalurkan ke sejumlah panti asuhan di Kota Jambi. Ratusan anak yatim dan dhuafa menerima bantuan kebutuhan sehari-hari dan perlengkapan pendidikan.

Ernawati bahkan pernah menyampaikan pesan yang menjadi benang merah dengan kegiatan nobar kali ini.

“Kami ingin anak-anak tahu bahwa mereka tidak sendiri. Banyak orang yang peduli dan mendoakan mereka,” ujar Ernawati.

Bagi Ernawati, kepedulian terhadap anak yatim tidak semestinya berhenti pada bantuan materi.

Anak-anak juga membutuhkan perhatian.

Teman berbicara.

Motivasi.

Pengalaman baru.

Dan rasa bahwa mereka berada dalam lingkungan yang peduli terhadap masa depan mereka.

Karena itu, mendampingi sekitar 150 anak yatim menonton film bersama menjadi cara lain untuk menghadirkan kebahagiaan.

Bukan sembako.

Bukan uang.

Kali ini bentuknya sebuah kursi bioskop, layar lebar dan dua jam kebersamaan.

Sederhana?

Mungkin.

Tetapi bagi anak-anak, kenangannya bisa panjang.

Hesti Haris: Anak Adalah Aset Bangsa

Hj Hesnidar Haris atau Hesti Haris juga berada di tengah anak-anak dalam kegiatan tersebut.

Posisinya sebagai Ketua TP PKK sekaligus Bunda PAUD Provinsi Jambi membuat isu perlindungan dan pemenuhan hak anak memang menjadi salah satu perhatian yang selama ini kerap disuarakannya.

Saat momentum Hari Anak Nasional 2026, Hesti mengingatkan bahwa perlindungan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga.

“Anak merupakan aset bangsa dan generasi penerus yang harus kita jaga bersama,” kata Hesnidar dalam pernyataannya pada Juli lalu.

Menurut Hesnidar, pemenuhan hak anak memerlukan keterlibatan orang tua, pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha hingga seluruh elemen masyarakat.

Pesan itu menemukan bentuk konkretnya dalam nobar di WTC Jambi.

Di satu tempat, ada pelaku industri kreatif.

Ada organisasi masyarakat.

Ada tokoh perempuan.

Ada pendamping.

Dan di tengah-tengah mereka, ada 150 anak yatim.

Semua duduk menghadap layar yang sama.

Bukan Sekadar Nobar

Nobar Anak-Anak Bambu akhirnya bukan sekadar agenda menonton film.

Film menjadi pintu masuk.

Di baliknya ada pesan lebih besar tentang bagaimana anak-anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya tetap berhak memperoleh ruang kebahagiaan yang sama seperti anak-anak lainnya.

Menariknya, cerita dalam film dan suasana di luar layar seperti saling bertemu.

Anak-Anak Bambu berbicara mengenai anak-anak yang membutuhkan tempat pulang, kasih sayang dan penerimaan. Sementara di Jambi, sekitar 150 anak yatim diajak duduk bersama orang-orang yang ingin menunjukkan bahwa mereka punya banyak tangan untuk menggenggam.

Elma datang dengan filmnya.

Hesnidar hadir dengan semangat perlindungan anak.

Ernawati membawa jejak panjang kegiatan sosialnya bersama anak yatim.

Lalu 150 anak duduk di tengah-tengah mereka.

Lampu bioskop kemudian dipadamkan.

Layar menyala.

Film dimulai.

Namun mungkin, cerita paling penting justru tidak hanya terjadi di layar.

Ia berlangsung di kursi-kursi bioskop itu—ketika 150 anak yatim dibuat merasa diperhatikan, ditemani dan tidak berjalan sendirian.

BeritaSatu Network