BREAKING NEWS! Rektor IAIN Kerinci Jafar Ahmad Resmi Sandang Gelar Profesor, Jadi Guru Besar Ilmu Politik

WIB
ist

JAMBI - Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan tinggi di Provinsi Jambi. Dr. H. Jafar Ahmad, S.Ag., M.Si., resmi menyandang jabatan akademik Profesor/Guru Besar dalam bidang Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Jafar bukan sosok asing di Jambi.

Saat ini ia menjabat Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kerinci periode 2025-2029. Sebelum kembali berkonsentrasi di kampus, doktor Ilmu Politik jebolan Universitas Indonesia (UI) itu pernah berada di garis depan pengawasan pelayanan publik sebagai Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jambi.

Keputusan pengangkatan Jafar sebagai profesor tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Nomor 19604/M/KPT.KP/2026 tentang Kenaikan Jabatan Akademik/Fungsional Dosen.

SK tersebut ditetapkan di Jakarta pada 10 Agustus 2026 oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto.

Dalam keputusan itu ditegaskan, terhitung mulai 1 Agustus 2026, Jafar Ahmad dinaikkan jabatannya menjadi Profesor/Guru Besar dalam ranting ilmu/kepakaran Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Mendapat kabar tersebut, Jafar menyampaikan rasa syukur.

“Alhamdulillah,” kata Jafar Ahmad.

Satu kata pendek itu menjadi respons atas perjalanan akademiknya yang kini mencapai jenjang tertinggi jabatan akademik dosen.

Lolos Uji Kompetensi Guru Besar

Sebelum SK Menteri diterbitkan, Jafar telah melewati Uji Kompetensi Jabatan Akademik Dosen.

Sertifikat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Nomor 16019/B4/DT.04.01/2026 tertanggal 22 Juli 2026 menyatakan Jafar Ahmad memenuhi kompetensi kelayakan untuk kenaikan jabatan akademik dosen ke Profesor pada ranting ilmu/kepakaran Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Data dalam sertifikat itu mencatat Jafar sebagai dosen tetap IAIN Kerinci.

Pendidikan tertingginya S3 Ilmu Politik.

Sebelum menjadi profesor, jabatan akademiknya adalah Lektor Kepala, terhitung sejak 1 November 2022.

Pangkatnya Pembina Tingkat I, golongan IV/b, terhitung mulai 1 April 2025.

Dengan SK terbaru tersebut, perjalanan akademik Jafar bergerak satu tingkat lebih tinggi: dari Lektor Kepala menjadi Guru Besar.

Dari Tanjung Pauh Mudik

Jafar Ahmad lahir di Tanjung Pauh Mudik, Kerinci, 21 Januari 1978. Data resmi Kementerian Pendidikan Tinggi mencatat tanggal dan tempat kelahirannya bersama riwayat jabatan akademik serta pendidikan S3-nya.

Latar akademiknya berada di rumpun politik.

Ia menempuh jenjang doktoral di Universitas Indonesia. Situs resmi Ombudsman RI dalam profil Jafar saat menjabat Kepala Perwakilan Ombudsman Jambi juga menyebutnya sebagai doktor jebolan Universitas Indonesia.

Latar Ilmu Politik itu kemudian menjadi garis utama perjalanan intelektualnya hingga akhirnya dikukuhkan sebagai profesor pada bidang Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Namun perjalanan karier Jafar tidak hanya berada di dalam kampus.

Ia pernah keluar dari pagar perguruan tinggi dan masuk ke lembaga negara yang berurusan langsung dengan keluhan masyarakat.

Pernah Jadi Kepala Ombudsman Jambi

Pada 29 Juli 2019, Jafar Ahmad resmi dilantik menjadi Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Jambi.

Pelantikan dilakukan Ketua Ombudsman RI saat itu, Amzulian Rifai, di Gedung Ombudsman RI, Jakarta. Jafar dilantik bersama kepala perwakilan Ombudsman Sumatera Barat, Jawa Tengah dan Papua Barat.

Posisi itu membawanya ke banyak persoalan pelayanan publik di Jambi.

Ketika memimpin Ombudsman Jambi, Jafar antara lain menangani isu pelayanan pendidikan, rumah sakit, pemerintahan daerah hingga berbagai laporan dugaan maladministrasi.

Pada 2019, misalnya, ia membuka ruang pengaduan bagi masyarakat yang menemukan dugaan pungutan liar di sekolah.

“Ombudsman bekerja berdasar aduan warga dan fakta-fakta,” kata Jafar ketika itu.

Ia juga pernah menegaskan Ombudsman memiliki tugas mengusut dan menyelidiki dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan publik.

Pengalaman tersebut membuat rekam karier Jafar tidak hanya berada pada teori politik dan administrasi kampus, tetapi juga bersentuhan langsung dengan praktik pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan.

Kembali ke Kampus, Lalu Jadi Rektor

Setelah perjalanan di Ombudsman, Jafar kembali masuk ke lingkungan perguruan tinggi.

Sebelum menduduki kursi rektor, ia pernah menjabat Wakil Rektor II IAIN Kerinci, dengan pengalaman pada bidang administrasi dan pengembangan institusi.

Kariernya kemudian mencapai puncak kepemimpinan kampus.

Pada 4 Februari 2025, Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik Jafar Ahmad sebagai Rektor IAIN Kerinci periode 2025-2029. Ia menggantikan Prof. Dr. KH. Asa'ari, M.Ag.

Sejak itu Jafar memimpin transformasi IAIN Kerinci.

Pada 2026, kampus tersebut mencatat telah memiliki 10 program studi berstatus Akreditasi Unggul, salah satu capaian yang didorong dalam kepemimpinannya menuju penguatan mutu institusi.

Dalam Rapat Kerja IAIN Kerinci pada Februari 2026, Jafar juga mendorong percepatan kinerja kampus dengan memperbaiki keterhubungan antara perencanaan program, anggaran dan kinerja unit-unit di lingkungan IAIN Kerinci.

Kini Profesor di Bidang yang Ditekuninya

Pengangkatan sebagai Guru Besar membuat posisi Jafar semakin lengkap.

Ia kini bukan hanya rektor yang memimpin institusi.

Tetapi juga profesor pada disiplin yang selama bertahun-tahun ditekuninya: Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

SK Menteri menyebut kenaikan jabatan tersebut didasarkan antara lain pada Sertifikat Uji Kompetensi Jabatan Akademik Dosen tertanggal 22 Juli 2026 serta surat Rektor IAIN Kerinci tertanggal 6 Agustus 2026.

Dalam keputusan itu, Jafar juga tercatat sebagai PNS Kementerian Agama dengan NIP 197801212011011006 dan unit kerja IAIN Kerinci.

Perjalanan tersebut membentuk lintasan karier yang cukup lengkap.

Dari akademisi.

Masuk ke pengawasan pelayanan publik melalui Ombudsman.

Kembali ke perguruan tinggi.

Menjadi Wakil Rektor.

Naik menjadi Rektor.

Dan kini menyandang gelar akademik Profesor/Guru Besar Ilmu Politik dan Sosial Budaya.

Dari Tanjung Pauh Mudik, Kerinci, perjalanan akademik Jafar Ahmad kini sampai pada salah satu jenjang tertinggi yang dapat diraih seorang dosen.

Responsnya singkat.

Tetapi penuh makna.

“Alhamdulillah.” (*)

BeritaSatu Network