Petani Sawit Mitra PTPN IV PalmCo Kantongi SHU Rp7-8 Juta per Bulan

WIB
Ist

Jakarta - Pola kemitraan perkebunan sawit yang dikembangkan PTPN IV PalmCo mulai menunjukkan hasil ekonomi bagi petani.

Petani sawit mitra perusahaan tercatat memperoleh sisa hasil usaha (SHU) rata-rata Rp7 juta hingga Rp8 juta per bulan.

Perolehan tersebut berasal dari sekitar 19 ribu areal kemitraan yang telah memasuki masa menghasilkan dengan produksi tandan buah segar (TBS) disebut berada di atas standar nasional.

Capaian tersebut tak hanya dikaitkan dengan kepastian penyerapan hasil panen. PalmCo juga melakukan pendampingan teknis budidaya hingga program peremajaan kebun sawit rakyat.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan kemitraan harus memberikan kepastian pasar sekaligus membantu petani meningkatkan kualitas pengelolaan kebun.

“Seperti arahan COO Danantara yang juga merupakan Kepala BP BUMN dan bapak Menteri Pertanian RI, salah satu fokus kami dalam transformasi PalmCo adalah memastikan terciptanya ekosistem kemitraan yang sehat. Kami hadir memberikan kepastian pasar, sekaligus membina sisi agronomi kebun petani,” kata Jatmiko.

Tak Cukup Hanya Beli TBS Petani

Menurut Jatmiko, pola kemitraan tidak boleh berhenti pada hubungan jual beli tandan buah segar.

Perusahaan juga harus masuk pada aspek produktivitas.

Sebab kepastian pembeli tidak otomatis membuat pendapatan petani meningkat apabila hasil kebunnya rendah.

Karena itu, PalmCo melakukan pendampingan terhadap koperasi unit desa atau KUD yang menjadi mitra.

Pengelolaan kebun diarahkan menggunakan standar yang menyerupai perkebunan korporasi.

Mulai dari perawatan tanaman.

Pemupukan.

Pengendalian teknis budidaya.

Hingga pemanenan.

Terapkan Single Management

Salah satu pendekatan yang digunakan adalah single management.

Dalam pola tersebut, kebun petani mitra dikelola menggunakan standar yang sama dengan kebun inti.

Praktik budidayanya mengacu pada prinsip good agricultural practices.

Tujuannya membuat produktivitas kebun rakyat tidak tertinggal dari kebun perusahaan.

Bagi petani, peningkatan produksi menjadi faktor penting karena berhubungan langsung dengan jumlah TBS yang dapat dijual.

Semakin produktif tanaman, semakin besar pula potensi pendapatan yang diperoleh, dengan tetap bergantung pada harga TBS, biaya pengelolaan serta struktur pembagian hasil yang berlaku.

6,8 Juta Bibit Unggul Sudah Disalurkan

PalmCo juga mengandalkan perbaikan material tanaman.

Perusahaan disebut telah menyalurkan 6,8 juta bibit sawit unggul bersertifikat.

Bibit menjadi salah satu faktor penting dalam produktivitas jangka panjang perkebunan kelapa sawit.

Tanaman dengan sumber benih yang baik memiliki potensi produksi yang lebih terukur apabila disertai budidaya yang tepat.

Selain penyaluran bibit, perusahaan juga menjalankan program peremajaan kebun sawit rakyat.

Luas kebun yang telah diremajakan disebut mencapai lebih dari 47.000 hektare.

Targetnya 52 Ribu Hektare Kebun Mitra

PalmCo ingin model kebun yang telah menghasilkan SHU tersebut diperluas.

Total areal kemitraan perusahaan saat ini disebut mencapai sekitar 52 ribu hektare.

“Ini menjadi contoh yang ingin terus kami replikasi agar seluruh areal kemitraan kami yang totalnya mencapai 52 ribu hektare, termasuk untuk kebun-kebun mitra lain ke depannya, bisa mendapatkan tingkat kesejahteraan yang sama,” ujar Jatmiko.

Artinya, model pengelolaan pada areal yang sudah menghasilkan ingin diterapkan lebih luas pada kebun mitra lainnya.

Namun angka SHU tentu tidak otomatis sama di seluruh wilayah.

Produktivitas tanaman, umur sawit, harga TBS, biaya perawatan dan kondisi masing-masing kebun dapat memengaruhi hasil yang diterima petani.

KUD Disebut Punya Saldo Kas hingga Rp5 Miliar

Dampak ekonomi kemitraan juga terlihat pada sejumlah koperasi.

Sejumlah KUD mitra PalmCo tercatat memiliki saldo kas tahunan sekitar Rp3 miliar hingga Rp5 miliar.

Keuangan koperasi yang sehat menjadi penting karena KUD berada di antara perusahaan dan petani.

Koperasi dapat menjadi pusat pengelolaan kebun, distribusi hasil, administrasi hingga berbagai kebutuhan anggota.

Namun nilai saldo tersebut tidak disebut berlaku untuk seluruh KUD mitra PalmCo.

Data yang disampaikan hanya menyebut terdapat sejumlah KUD yang telah mencapai posisi tersebut.

Aspekpir: Masa Depan Sawit Rakyat adalah Kemitraan

Ketua DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia Setiyono melihat pola kemitraan sebagai salah satu kunci masa depan kebun sawit rakyat.

Menurutnya, hubungan perusahaan, petani dan pemerintah akan semakin menentukan produktivitas sekaligus keberlanjutan industri.

“Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan,” ujar Setiyono.

Kemitraan dinilai memberi petani akses yang lebih luas terhadap teknologi budidaya, bibit, manajemen kebun hingga kepastian pasar.

Hal-hal tersebut sering menjadi tantangan bagi petani yang mengelola kebun secara sendiri-sendiri.

Produktivitas Jadi Kunci Penghasilan

Angka SHU Rp7 juta-Rp8 juta per bulan menjadi salah satu indikator yang ditonjolkan dari pola kemitraan tersebut.

Namun sumber utama pencapaiannya berada pada produktivitas.

Kebun harus menghasilkan TBS secara optimal.

Kualitas tanaman harus dijaga.

Pemupukan dilakukan tepat.

Panen tidak terlambat.

Dan hasilnya memiliki pasar yang pasti.

Tanpa kombinasi tersebut, peningkatan kesejahteraan petani sulit dicapai hanya dengan membentuk kemitraan secara administratif.

Karena itu, PalmCo menekankan pembinaan agronomi berjalan beriringan dengan kepastian pembelian hasil.

Dari Kebun Rakyat ke Standar Korporasi

Single management pada dasarnya mencoba memperkecil jurang pengelolaan antara kebun perusahaan dengan kebun rakyat.

Petani tetap menjadi bagian penting dalam kepemilikan dan manfaat ekonomi kebun.

Sementara pengelolaannya menggunakan standar teknis yang lebih terukur.

Jika berhasil diterapkan secara konsisten, model tersebut diharapkan membuat produktivitas kebun rakyat lebih stabil.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilannya bukan hanya luas kebun yang masuk kemitraan.

Bukan pula sekadar berapa juta bibit yang disalurkan.

Yang paling menentukan adalah perubahan yang diterima petani.

Dari produktivitas kebun.

Kepastian TBS terserap.

Hingga pendapatan yang masuk ke rumah tangga.

Dan pada areal kemitraan yang telah menghasilkan, PalmCo mencatat satu angka yang cukup menarik: SHU petani rata-rata Rp7 juta sampai Rp8 juta setiap bulan. (*)

BeritaSatu Network