Jambi - Sisi kehidupan, keteladanan, dan perjuangan dakwah ulama besar asal Kabupaten Sarolangun, Buya Salek, kini dapat diselami lebih dalam. Buku biografi bertajuk "Buya Salek: Mutiara dari Sarolangun" karya penulis muda Rifaldo, resmi diluncurkan dan didiskusikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin (STS) Jambi.
Peluncuran buku ini menjadi momen istimewa dan menyedot perhatian sejumlah tokoh penting Jambi. Anggota Komisi VIII DPR RI yang juga mantan Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus (HBA), tampak hadir dan memberikan apresiasi tinggi atas lahirnya karya literasi sejarah lokal tersebut.
"Saya senang buku ini ditulis. Kita tidak tahu kebesaran kita kalau kita tidak menulis," ujar HBA dalam sambutannya di lokasi acara.
HBA mengenang sosok Buya Salek sebagai guru dan ulama yang sangat teduh. Menurutnya, karakter sang ulama patut menjadi cerminan bagi generasi saat ini.
"Guru Salek ini seorang ulama yang tidak pernah marah dengan orang, selalu senyum. Mudah-mudahan bagi generasi muda kita bisa mengetahui bagaimana ulama kharismatik ini yang menjadi contoh," tuturnya.
Lebih lanjut, tokoh masyarakat Jambi ini menyatakan dukungan penuhnya terhadap geliat literasi anak muda daerah.
"Saya sangat senang anak-anak Jambi bisa menulis, saya support sekali. Terima kasih kepada Saudara Rifaldo sudah mempunyai keinginan yang baik dalam menulis buku ini," tambah HBA.

Apresiasi senada juga datang dari Pemerintah Provinsi Jambi. Gubernur Jambi yang diwakili oleh Asisten II Setda Provinsi Jambi, Syamsurijal, M.Si, menyoroti besarnya kontribusi Buya Salek dalam membangun fondasi Sumber Daya Manusia (SDM) dan kehidupan beragama di Jambi.
"Kemajuan suatu daerah sangatlah ditentukan oleh SDM. Buya Salek ini adalah tokoh ulama yang mempunyai peran penting dalam kehidupan beragama, baik di Kabupaten Sarolangun maupun di Provinsi Jambi," terang Syamsurijal.
Syamsurijal menjelaskan bahwa Buya Salek sangat tekun dan memiliki pendirian kuat dalam urusan pendidikan keagamaan. Beliau secara konsisten terus mendorong majunya pendidikan, baik di jalur formal maupun non-formal.
"Beliau juga sangat dikenal dengan gayanya yang santun dalam menyampaikan dakwah. Pemerintah berterima kasih kepada Saudara Rifaldo yang telah mendokumentasikan ini," tegasnya.
Turut hadir memberikan pandangannya, tokoh masyarakat kebanggaan Sarolangun yang juga Mantan Rektor UIN Jambi, Prof. Mukhtar Latif. Pria yang kini menduduki posisi strategis sebagai Tenaga Ahli Gubernur Jambi ini menyebut kehadiran buku biografi tersebut sebagai sebuah oase dan penyelamat sejarah bagi warga Jambi.
"Bagi kami masyarakat Sarolangun, Buya Salek bukan sekadar guru agama, melainkan kompas moral yang sangat dihormati. Beliau berhasil memadukan keilmuan Islam dengan pendekatan kultural yang merakyat. Lahirnya buku ini ibarat menemukan kembali mutiara berharga kita yang sempat terpendam," ungkap Prof. Mukhtar dengan nada bangga.
Ia menegaskan bahwa di tengah gempuran modernisasi, generasi muda sangat membutuhkan figur keteladanan lokal yang otentik.
"Anak muda kita butuh role model nyata. Buya Salek adalah teladan sempurna tentang ketawadukan dan keteguhan berdakwah. Saya sangat mengapresiasi buku ini karena berhasil menyelamatkan akar identitas dan sejarah keulamaan Jambi dari kepunahan," pungkasnya.
Sementara itu, Rektor UIN STS Jambi, Prof. Kasful, menyatakan rasa bangganya karena kampus pelita keagamaan di Jambi tersebut dipercaya sebagai tuan rumah dalam agenda peluncuran karya inspiratif ini.
"Ini adalah kehormatan bagi kami, sivitas akademika UIN STS Jambi, sudah diberikan peluang dalam peluncuran dan diskusi buku biografi Buya Salek ini. Kami menyambut baik dan selalu siap memfasilitasi acara-acara bernilai akademik seperti ini," ungkap Prof. Kasful.
Menutup sambutannya, Prof. Kasful berharap agar diskusi dan peluncuran buku ini tidak hanya menjadi ajang bedah sejarah, tetapi juga bernilai ibadah.
"Terima kasih atas semuanya. Semoga berkah dan apa yang kita lakukan hari ini menjadi sebuah amal ibadah bagi kita semua," pungkasnya.
Melalui kehadiran buku "Buya Salek: Mutiara dari Sarolangun", keteladanan sang ulama diharapkan tak lagi hanya menjadi cerita lisan, melainkan warisan tertulis yang akan terus menjadi pelita bagi generasi penerus di Jambi.
Menyambung apresiasi dari berbagai pihak, Dr. Fahmi Rasid turut memberikan pandangannya. Sebagai birokrat yang kini bertugas di Bappeda Provinsi Jambi sekaligus Fasilitator Tenaga Ahli Gubernur, pria kelahiran Sarolangun ini mengaku memiliki kedekatan emosional tersendiri dengan rekam jejak Buya Salek.
Menurutnya, peluncuran buku biografi ini bukan sekadar perayaan literasi sejarah, melainkan momentum krusial untuk merefleksikan kembali arah pembangunan karakter Sumber Daya Manusia (SDM) di Provinsi Jambi.
"Sosok Buya Salek ini adalah cerminan utuh dari sinergi antara dalamnya ilmu agama dan tingginya kepedulian sosial di akar rumput. Sebagai putra daerah Sarolangun, saya melihat langsung bagaimana keteladanan beliau yang santun namun sangat teguh memajukan pendidikan, yang mana ini amat selaras dengan visi pembangunan daerah kita. Kehadiran buku ini menyadarkan kita bahwa Jambi tidak pernah kekurangan role model nyata yang kiprahnya patut diteladani oleh para pemangku kebijakan," papar Dr. Fahmi.
Lebih jauh, ia menilai karya dari penulis muda seperti Rifaldo ini harus menjadi pemicu bagi lahirnya pendokumentasian tokoh-tokoh lokal lainnya.
"Tugas kita ke depan adalah menggali lebih banyak 'mutiara' yang masih terpendam di pelosok-pelosok Jambi. Narasi sejarah lokal yang kuat akan menjadi benteng utama bagi generasi muda kita agar tidak kehilangan identitas di tengah gempuran era digital. Buku Buya Salek ini adalah sumbangsih peradaban yang sangat mahal harganya," pungkas Dr. Fahmi.(Wo Bujang)