Jambi – Proyek Pembangunan Tahap III Gedung Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Jambi menjadi salah satu paket jumbo di lingkungan Kementerian Kesehatan tahun anggaran 2026.
Nilai pagunya tidak kecil, Rp51.000.000.000.
Dalam data transaksi pengadaan, paket ini tercatat sudah berkontrak kepada Burniat Indah Karya dengan nilai Rp46.625.188.197.
Sumber dananya APBN 2026. Sumber transaksi melalui E-Katalog 6.0. Metode pengadaannya E-Purchasing. Jenis pengadaannya Pekerjaan Konstruksi. Status paket saat ini ON PROCESS.
Kode paketnya 01KS9Y7PHD8525D09EZGP0Q473. Kode RUP-nya 66947973.
Satuan kerjanya Politeknik Kesehatan Jambi - 632149, di bawah Kementerian Kesehatan.
Sekilas, proyek ini adalah kabar baik. Kampus kesehatan membutuhkan laboratorium. Mahasiswa butuh ruang praktik. Dosen butuh fasilitas ajar. Jambi butuh lulusan tenaga kesehatan yang kompeten.
Namun, karena nilainya jumbo, publik juga berhak bertanya.
Mengapa proyek konstruksi sebesar ini dilakukan melalui E-Purchasing? Bagaimana spesifikasi teknisnya? Apa saja volume pekerjaan struktur, arsitektur, mekanikal elektrikal, landscape dan hardscape? Bagaimana pengawasan mutunya? Siapa konsultan pengawasnya? Apakah progres fisik sesuai jadwal?
Karena proyek gedung laboratorium tidak cukup hanya menang di katalog.
Ia harus menang di lapangan.
Dalam RUP, total pagu proyek ini tercatat Rp51 miliar.
Namun dalam data transaksi E-Katalog 6.0, nilai paket kepada Burniat Indah Karya tercatat Rp46.625.188.197.
Artinya, nilai transaksi lebih rendah sekitar Rp4.374.811.803 dari pagu.
Secara persentase, nilai transaksi berada di kisaran 91,42 persen dari pagu.
Angka ini tetap besar. Sangat besar.
Karena itu, proyek ini harus diawasi dari awal. Mulai dari pekerjaan persiapan, struktur, arsitektur, mekanikal elektrikal, landscape hingga hardscape.
Satu bagian saja dikerjakan asal-asalan, dampaknya bisa panjang. Gedung bisa tampak megah dari luar, tapi bermasalah pada fungsi.
Laboratorium berbeda dengan gedung biasa.
Ia butuh standar ruang. Butuh instalasi listrik yang aman. Butuh sirkulasi udara. Butuh sistem mekanikal elektrikal yang presisi. Butuh kekuatan struktur. Butuh tata ruang praktik yang benar. Butuh lingkungan kampus yang mendukung pembelajaran.
Rincian Transaksi Pengadaan
| No | Uraian | Detail |
|---|---|---|
| 1 | Kementerian | Kementerian Kesehatan |
| 2 | Satuan Kerja | Politeknik Kesehatan Jambi - 632149 |
| 3 | Kode Paket | 01KS9Y7PHD8525D09EZGP0Q473 |
| 4 | Kode RUP | 66947973 |
| 5 | Tahun Anggaran | 2026 |
| 6 | Sumber Transaksi | E-Katalog 6.0 |
| 7 | Sumber Dana | APBN |
| 8 | Penyedia | Burniat Indah Karya |
| 9 | Metode Pengadaan | E-Purchasing |
| 10 | Jenis Pengadaan | Pekerjaan Konstruksi |
| 11 | Nama Paket | Pembangunan Tahap III Gedung Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Jambi |
| 12 | Status Paket | ON PROCESS |
| 13 | Total Nilai | Rp46.625.188.197 |
| 14 | Nilai PDN | Rp46.625.188.197 |
Nilai PDN paket ini tercatat sama dengan total nilai kontrak, yakni Rp46.625.188.197.
Artinya, seluruh nilai transaksi tercatat sebagai Produk Dalam Negeri.
Rincian RUP Paket
| No | Deskripsi | Detail |
|---|---|---|
| 1 | Kode RUP | 66947973 |
| 2 | Nama Paket | Pembangunan Tahap III Gedung Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Jambi |
| 3 | Nama KLPD | Kementerian Kesehatan |
| 4 | Satuan Kerja | Politeknik Kesehatan Jambi |
| 5 | Tahun Anggaran | 2026 |
| 6 | Volume Pekerjaan | 1 PT |
| 7 | Uraian Pekerjaan | Pembangunan Tahap III Gedung Laboratorium Terpadu Poltekkes Kemenkes Jambi |
| 8 | Spesifikasi Pekerjaan | Pekerjaan Persiapan, Struktur, Arsitektur, Mekanikal Elektrikal, Landscape dan Hardscape |
| 9 | Produk Dalam Negeri | Ya |
| 10 | Usaha Kecil/Koperasi | Tidak |
| 11 | Aspek Ekonomi | Ya |
| 12 | Aspek Sosial | Tidak |
| 13 | Aspek Lingkungan | Ya |
| 14 | Pra DIPA/DPA | Tidak |
| 15 | Total Pagu | Rp51.000.000.000 |
| 16 | Metode Pemilihan | E-Purchasing |
| 17 | Jenis Pengadaan | Pekerjaan Konstruksi |
| 18 | Pemanfaatan Mulai | November 2026 |
| 19 | Pemanfaatan Akhir | Desember 2026 |
| 20 | Kontrak Mulai | Mei 2026 |
| 21 | Kontrak Akhir | November 2026 |
| 22 | Pemilihan Penyedia Mulai | Maret 2026 |
| 23 | Pemilihan Penyedia Akhir | April 2026 |
Jadwal proyek ini cukup padat.
Pemilihan penyedia dimulai Maret 2026 dan berakhir April 2026.
Pelaksanaan kontrak dimulai Mei 2026 dan berakhir November 2026.
Pemanfaatan barang/jasa dijadwalkan mulai November 2026 hingga Desember 2026.
Artinya, setelah kontrak selesai, gedung ditargetkan segera masuk tahap pemanfaatan.
Di sinilah tantangannya.
Proyek konstruksi senilai Rp46,62 miliar dengan ruang lingkup pekerjaan persiapan, struktur, arsitektur, mekanikal elektrikal, landscape, dan hardscape membutuhkan pengendalian waktu yang sangat ketat.
Jika ada keterlambatan material, perubahan desain, cuaca, kendala teknis, atau persoalan lapangan, jadwal pemanfaatan bisa terganggu.
Publik perlu tahu: apakah progres fisik sesuai kurva-S? Apakah pekerjaan struktur sudah berjalan sesuai standar? Apakah pengujian mutu beton dilakukan? Apakah pekerjaan mekanikal elektrikal dirancang sesuai kebutuhan laboratorium? Apakah ada dokumentasi progres terbuka?
Konstruksi Jumbo Lewat E-Purchasing
Bagian paling menarik dari data ini adalah metode pengadaan.
Paket konstruksi senilai pagu Rp51 miliar dan transaksi Rp46,62 miliar dilakukan melalui E-Purchasing.
E-Purchasing memang sah sebagai metode pengadaan sepanjang tersedia di katalog dan mengikuti ketentuan pengadaan barang/jasa pemerintah.
Namun untuk pekerjaan konstruksi besar, publik tetap wajar meminta penjelasan lebih terang.
Apa dasar pemilihan penyedia Burniat Indah Karya? Bagaimana proses pembandingan produk/jasa dalam katalog? Apakah ada negosiasi? Bagaimana harga satuan dikunci? Apakah spesifikasi pekerjaan benar-benar sesuai kebutuhan kampus? Bagaimana memastikan tidak ada item pekerjaan yang kurang volume?
E-Katalog mempercepat proses. Tapi proyek besar tetap butuh akuntabilitas besar.
Cepat boleh.
Tertutup jangan.
Spesifikasi pekerjaan mencakup beberapa komponen besar:
| No | Komponen | Sorotan |
|---|---|---|
| 1 | Pekerjaan Persiapan | Harus jelas mobilisasi, pembersihan, pengukuran, dan kesiapan lokasi |
| 2 | Struktur | Menyangkut kekuatan bangunan dan keselamatan pengguna |
| 3 | Arsitektur | Menyangkut fungsi ruang, tampilan, dan kenyamanan gedung |
| 4 | Mekanikal Elektrikal | Vital untuk laboratorium, listrik, ventilasi, keamanan, dan sistem pendukung |
| 5 | Landscape | Menyangkut tata ruang luar dan lingkungan kampus |
| 6 | Hardscape | Menyangkut elemen keras kawasan, akses, jalur, dan pendukung luar bangunan |
Ruang lingkup ini bukan pekerjaan kecil.
Terutama bagian mekanikal elektrikal. Untuk laboratorium terpadu, komponen ini sangat menentukan. Laboratorium membutuhkan daya listrik stabil, pengamanan instalasi, ventilasi, pencahayaan, jaringan pendukung, dan kemungkinan kebutuhan teknis khusus sesuai jenis laboratorium.
Jika mekanikal elektrikal dikerjakan asal, gedung bisa berdiri, tapi laboratorium tidak optimal.
Data RUP mencatat Aspek Ekonomi: Ya dan Aspek Lingkungan: Ya.
Namun Aspek Sosial: Tidak.
Ini menarik.
Secara administratif, bisa saja kolom aspek sosial punya definisi teknis tertentu dalam sistem RUP. Namun secara substansi, pembangunan laboratorium kampus kesehatan jelas memiliki dampak sosial tidak langsung.
Gedung ini akan digunakan untuk pendidikan tenaga kesehatan. Lulusan Poltekkes kelak bekerja di rumah sakit, puskesmas, laboratorium, klinik, dan layanan kesehatan masyarakat.
Artinya, efek sosialnya tetap ada.
Karena itu, publik bisa bertanya: mengapa aspek sosial tidak ditandai? Apakah karena sistem klasifikasi? Apakah karena penyusunan RUP? Atau karena proyek ini hanya dipandang sebagai konstruksi fisik?
Pertanyaan ini penting bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk memastikan proyek pendidikan kesehatan tidak hanya dibaca sebagai beton, baja, dan bangunan.
Data juga mencatat Usaha Kecil/Koperasi: Tidak.
Ini masuk akal karena nilai paket sangat besar dan jenis pekerjaan konstruksi membutuhkan kapasitas teknis serta kemampuan pelaksanaan yang memadai.
Namun publik tetap berhak tahu rekam jejak Burniat Indah Karya.
Pernah mengerjakan proyek apa saja? Bagaimana kualitas pekerjaannya? Apakah pernah terlambat? Apakah pernah masuk catatan audit? Bagaimana kemampuan alat, tenaga ahli, modal kerja, dan pengalaman konstruksinya?
Untuk proyek Rp46,62 miliar, reputasi penyedia menjadi penting.
Gedung laboratorium bukan tempat untuk coba-coba.
Sejumlah warga Jambi berharap pembangunan laboratorium terpadu Poltekkes Jambi benar-benar meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan.
Seorang aktvis,Rudiansyah, mengatakan gedung laboratorium harus diawasi sejak awal.
“Kalau anggarannya sampai Rp46 miliar lebih, mutu bangunannya harus benar-benar bagus. Jangan sampai megah di depan, tapi bocor, retak, atau tidak sesuai fungsi laboratorium,” ujarnya.
Warga lainnya, M Bob, menyoroti metode E-Purchasing untuk pekerjaan konstruksi besar.
“Kalau lewat E-Katalog, publik tetap perlu tahu prosesnya. Ini bukan beli barang kecil. Ini gedung laboratorium puluhan miliar. Harus terbuka spesifikasi, progres, dan pengawasannya,” katanya.
Sementara warga lain berharap proyek ini benar-benar berdampak bagi mahasiswa.
“Poltekkes itu mencetak tenaga kesehatan. Kalau lab bagus, mahasiswa praktik lebih baik. Tapi jangan sampai gedungnya jadi proyek saja, sementara alat dan fungsi ruangnya tidak maksimal,” ujarnya.(*)