JAMBI — Tenaga Ahli Gubernur Jambi bersama Pemerintah Kota Jambi membedah persoalan pengelolaan sampah melalui Diskusi Rabuan Roadshow di Aula Griya Mayang, Rumah Dinas Wali Kota Jambi, Rabu, 29 Juli 2026.
Forum tersebut mengangkat tema “Transformasi Pelayanan Publik Pengelolaan Sampah yang Inklusif, Digital, dan Berbasis Masyarakat.”
Kegiatan melibatkan unsur pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, tokoh masyarakat, organisasi pemuda, dan media.
Ketua Tenaga Ahli Gubernur Jambi, Syahrasaddin, mengatakan Diskusi Rabuan Roadshow digelar untuk melihat secara langsung wajah kehidupan masyarakat di kabupaten dan kota.
Menurutnya, Kota Jambi memiliki sejumlah capaian positif yang patut diapresiasi.
“Diskusi Rabuan Roadshow ini ingin melihat wajah dan rumah masyarakat Provinsi Jambi, termasuk Kota Jambi,” kata Syahrasaddin dalam sambutannya.
Syahrasaddin mengatakan perekonomian Kota Jambi tumbuh positif sebesar 5,45 persen.
Selain pertumbuhan ekonomi, Kota Jambi juga mempunyai capaian Indeks Pembangunan Manusia atau IPM yang relatif tinggi.
Capaian itu, menurut Syahrasaddin, menunjukkan Kota Jambi mempunyai modal penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
“Ekonomi Kota Jambi tumbuh positif 5,45 persen. IPM-nya pun tinggi. Kota Jambi bahagia, dan kami mengapresiasi capaian itu,” ujarnya.
Namun, capaian ekonomi dan pembangunan manusia harus berjalan beriringan dengan kualitas lingkungan.
Kota yang tumbuh tidak cukup hanya diukur dari investasi, pembangunan fisik, dan perputaran ekonomi.
Kebersihan lingkungan juga ikut menentukan kualitas hidup masyarakat.
Dalam sambutannya, Syahrasaddin menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan persoalan sampah di tengah masyarakat.
Menurutnya, ada persoalan sosial yang membutuhkan penanganan aparat penegak hukum. Sementara sampah yang dihasilkan rumah tangga menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat.
“Sampah itu ada dua. Sampah masyarakat itu urusan polisi, sedangkan sampah rumah tangga itu urusan kita,” kata Syahrasaddin.
Ia mengatakan tantangan yang harus dijawab adalah bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat menciptakan Kota Jambi yang bersih sekaligus memberikan rasa nyaman dan bahagia kepada warganya.
“Upaya kita adalah bagaimana kota ini menjadi bersih dan bahagia,” ujarnya.
Karena itu, pengelolaan sampah tidak dapat hanya mengandalkan petugas kebersihan atau armada pengangkut.
Masyarakat harus terlibat sejak sampah dihasilkan.
Mulai dari mengurangi penggunaan barang sekali pakai, memilah sampah organik dan anorganik, mengaktifkan bank sampah, hingga memanfaatkan kembali material yang masih mempunyai nilai ekonomi.
Wali Kota Jambi dalam kegiatan tersebut diwakili Asisten II Sekretariat Daerah Kota Jambi, Feriadi.
Dalam sambutannya, Feriadi mengatakan Pemerintah Kota Jambi telah menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam sejumlah program pembangunan, termasuk melalui konsep Kampung Bahagia.
“Kampung Bahagia menempatkan masyarakat sebagai pelaku utamanya,” kata Feriadi.
Menurutnya, pemerintah dapat menyiapkan kebijakan, program, sarana, dan dukungan anggaran.
Namun, kebersihan lingkungan tidak akan tercapai tanpa perubahan perilaku di tingkat masyarakat.
Karena itu, pengelolaan sampah harus dimulai dari rumah, lingkungan rukun tetangga, kelurahan, hingga kecamatan.
Feriadi mengatakan pengelolaan sampah yang baik merupakan bagian penting dari program Kota Jambi Bahagia.
Program itu tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga dengan pembentukan perilaku hidup bersih di tengah masyarakat.
“Pengelolaan sampah yang baik merupakan bagian dari program Kota Jambi. Intinya adalah bagaimana masyarakat berperilaku bersih,” ujarnya.
Ia menilai perubahan perilaku menjadi kunci.
Sebab, sampah yang dibuang sembarangan akan kembali menimbulkan persoalan bagi masyarakat.
Saluran air dapat tersumbat.
Lingkungan menjadi kotor.
Bau muncul.
Risiko penyakit meningkat.
Ketika hujan datang, sampah juga dapat memperparah genangan dan banjir.
Karena itu, kebersihan tidak cukup hanya menjadi slogan.
Ia harus menjadi kebiasaan.
Feriadi juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam mencari model pengelolaan sampah yang lebih efektif.
Kampus dinilai dapat berkontribusi melalui penelitian, pemetaan persoalan, inovasi teknologi, pendampingan masyarakat, dan pengembangan model ekonomi sirkular.
“Perguruan tinggi dan semua pihak bisa berkolaborasi dalam hal pengelolaan sampah ini,” kata Feriadi.
Kolaborasi tersebut juga dapat melibatkan dunia usaha, komunitas lingkungan, organisasi pemuda, media, serta kelompok masyarakat di tingkat kelurahan.
Pemerintah bertindak sebagai regulator dan penyedia layanan.
Perguruan tinggi menyiapkan kajian.
Dunia usaha membantu membangun pasar bagi produk daur ulang.
Komunitas menggerakkan warga.
Sementara media membantu memperluas edukasi.
Kerangka acuan Diskusi Rabuan memang menempatkan kolaborasi pentahelix, digitalisasi pelayanan, penguatan bank sampah, dan ekonomi sirkular sebagai pokok pembahasan.
Feriadi berharap hasil diskusi tidak berhenti sebagai materi paparan atau dokumen rekomendasi.
Gagasan yang muncul harus dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat Kota Jambi.
“Hasil diskusi ini diharapkan mampu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Bahagia,” ujarnya.
Diskusi tersebut membahas sejumlah persoalan, mulai dari tata kelola pelayanan persampahan, pemanfaatan teknologi digital, peran masyarakat, penguatan bank sampah, hingga peluang ekonomi dari kegiatan daur ulang.
Forum juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi strategis bagi Pemerintah Kota Jambi dan Pemerintah Provinsi Jambi.
Rekomendasi itu diharapkan dapat menjawab persoalan dari hulu hingga hilir.
Bagaimana sampah dikurangi.
Bagaimana sampah dipilah.
Bagaimana pengangkutannya dipastikan.
Bagaimana pengaduan warga ditangani.
Dan bagaimana sampah yang masih bernilai dapat kembali masuk ke kegiatan ekonomi.
Kota Jambi telah mencatat pertumbuhan ekonomi yang positif.
IPM-nya juga tinggi.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kemajuan itu terlihat pula pada lingkungannya.
Bersih kotanya.
Sehat masyarakatnya.
Bahagia warganya.(*)