Dwi Hartono, pengusaha bimbel online asal Rimbo Bujang Jambi, ditangkap sebagai dalang pembunuhan Kepala KCP BRI Cempaka Putih, Ilham Pradipta.
***
Dwi Hartono (39) dikenal sebagai pengusaha bimbingan belajar (bimbel) online asal Rimbo Bujang, Kabupaten Tebo, Jambi. Ia mendirikan dua perusahaan teknologi, yaitu PT Hartono Mandiri Makmur yang bergerak di bidang perdagangan & pengembangan perangkat lunak, serta PT Digitalisasi Aplikasi Indonesia (DAI) yang menaungi platform bimbel online bernama Guruku.
Kantor pusat kedua usahanya berlokasi di kawasan Kota Wisata, Gunung Putri, Bogor, yang juga merupakan kediaman pribadinya.
Sebagai pengusaha, Dwi Hartono merambah banyak bidang. Selain edukasi, ia mengaku memiliki bisnis di sektor properti, skincare, toko online, dan trading, serta mendirikan Hartono Foundation untuk menyalurkan beasiswa pendidikan, bantuan kesehatan, dan dukungan UMKM.
Namanya juga dikenal sebagai YouTuber dan motivator dengan akun Klan Hartono, tempat ia berbagi konten motivasi bisnis dan kehidupan. Sejak 2016, kanal YouTube-nya telah mengumpulkan ratusan ribu pengikut dengan jutaan total tayangan.
Di Instagram, ia kerap memamerkan gaya hidup mewah serta prestasi, termasuk pernah mengunggah bukti diterima sebagai mahasiswa S2 Magister Manajemen UGM pada akhir 2024. Pihak UGM sendiri telah menonaktifkan status Dwi sebagai mahasiswa baru program MM tersebut setelah kasus ini mencuat, sebagai bentuk dukungan terhadap proses hukum.
Meski berimage “crazy rich” dan dermawan, Dwi Hartono ternyata memiliki rekam jejak kriminal. Ia pernah dipenjara dalam kasus pemalsuan ijazah SMA pada tahun 2012. Modusnya, Dwi membantu empat calon mahasiswa masuk Fakultas Kedokteran Unissula Semarang dengan ijazah palsu (mengubah lulusan paket C jurusan IPS menjadi IPA). Atas perbuatannya, Dwi divonis hukuman penjara sekitar 2 tahun oleh PN Semarang.
Setelah bebas, Dwi bangkit membangun karier sebagai pengusaha dan motivator muda, hingga dikenal luas di komunitasnya sebelum akhirnya tersandung kasus pembunuhan ini.
Hubungan Dwi Hartono dan Korban
Mohamad Ilham Pradipta (37) adalah Kepala Kantor Cabang Pembantu BRI Cempaka Putih Raya, Jakarta Pusat. Hubungan antara Dwi Hartono dan Ilham terjalin melalui urusan perbankan. Informasi yang dihimpun, penyidik mengindikasikan motif uan.: Dwi Hartono diduga sakit hati karena permohonan kredit fiktif sebesar Rp 13 miliar yang diajukannya ditolak oleh Ilham.
Ilham, yang dikenal tegas dan profesional, menolak pengajuan kredit besar tersebut karena tidak memenuhi syarat, sehingga membuat Dwi kecewa berat.
Penolakan kredit inilah yang diduga memicu dendam pribadi Dwi terhadap korban. Polisi masih menyelidiki apakah motif kejahatan murni soal urusan kredit macet atau ada latar belakang lain, semisal konflik pribadi atau urusan bisnis lain.
Yang jelas, sebelum peristiwa nahas terjadi, Ilham dan Dwi tidak memiliki hubungan kekerabatan maupun pertemanan dekat. Interaksi mereka sebatas relasi profesional. Ilham sebagai pejabat bank, dan Dwi sebagai nasabah atau pengusaha yang berurusan dengan bank tersebut. Ilham sendiri telah berkarier di BRI sejak 2012 dan dipercaya memimpin KCP Cempaka Putih berkat reputasi kerjanya yang baik. Tragisnya, pelaksanaan tugas Ilham justru berujung konflik mematikan dengan Dwi Hartono.
Jejak Sang Dermawan dan Helikopter di Rimbo Bujang
Di kampung halamannya di Desa Tirta Kencana, Rimbo Bujang (Jambi), Dwi Hartono dikenal sebagai figur dermawan dan humble. Warga setempat mengingat Dwi yang dahulu bersekolah di SMP dan SMA Rimbo Bujang, sebelum merantau ke Pulau Jawa untuk melanjutkan pendidikan dan karier.
Setiap kali pulang kampung, Dwi tak segan berbagi rezeki. Ia rutin memberi sumbangan untuk acara-acara desa dan organisasi pemuda, serta pernah menyumbangkan satu unit ambulans bagi kebutuhan warga.
Kepedulian Dwi juga tampak saat menghadiri reuni sekolah. Dwi kerap mengundang artis ibu kota untuk menghibur warga dalam acara reunian di kampung. Bahkan, ia pernah menggelar pengajian akbar di Rimbo Bujang dengan mendatangkan penceramah terkenal Ustaz Zacky Mirza.
Bagi warga, sosok Dwi dikenal royal membantu. Selalu siap menjadi donatur jika ada kegiatan sosial atau keagamaan.
Keluarga Dwi Hartono masih tinggal di Rimbo Bujang dan memiliki usaha toko grosir di desa. Meski sudah lama menetap di Jawa, Dwi tidak memutus tali silaturahmi. Ia sering berkomunikasi dengan kerabat dan kenalan di kampung, serta sesekali pulang untuk bertemu warga.
Selama di Jambi, aktivitas Dwi lebih banyak bernuansa sosial dan filantropi. Memperkuat citranya sebagai “anak kampung sukses” yang tak lupa kampung halaman. Hal itulah yang membuat kabar keterlibatan Dwi dalam kasus kriminal berat ini sangat mengejutkan warga Rimbo Bujang.
Salah satu hal yang paling diingat warga adalah gaya Dwi Hartono pulang kampung dengan cara tak biasa. Dwi pernah datang ke Rimbo Bujang menaiki helikopter pribadi, mendarat di desanya bak tokoh penting. Kehadiran Dwi dengan helikopter sempat membuat heboh warga sekitar karena jarang ada orang pulang kampung dengan moda semewah itu.
Peristiwa tersebut kian menegaskan status Dwi sebagai orang kaya baru di mata masyarakat. Ia pun dijuluki “Crazy Rich Jambi”.
Menurut kesaksian tetangga sekampung Dwi, kedatangan Dwi dengan helikopter itu terjadi beberapa tahun lalu saat Dwi menghadiri acara di desa. Sejak itu, nama Dwi kian tersohor sebagai pengusaha muda yang sukses secara finansial.
Setiap pulang ke Jambi, Dwi tampil parlente dan kerap menunjukkan gaya hidup mewah, seolah menginspirasi pemuda desa bahwa mereka pun bisa sukses. Kendati begitu, di balik kemewahannya Dwi tetap bermurah hati pada warga setempat. Tidak ada yang menyangka bahwa perjalanan hidup Dwi, yang bolak-balik Jakarta-Jambi dengan leluasa, akhirnya berujung pada aksi kriminal.
Kronologis Penculikan dan Pembunuhan Muhammad Ilham Pradipta
Peristiwa penculikan dan pembunuhan Muhammad Ilham Pradipta terjadi dalam rentang waktu singkat pada 20–21 Agustus 2025, disusul penangkapan para pelaku beberapa hari kemudian. Berawal pada Rabu, 20 Agustus 2025. Ilham Pradipta usai menghadiri rapat kantor di Lotte Grosir, Pasar Rebo, Jakarta Timur, sekitar petang hari.
Saat berjalan ke area parkir menuju mobilnya, dua orang pria tak dikenal tiba-tiba menyergap Ilham dari belakang dan memaksanya masuk ke mobil Toyota Avanza putih milik pelaku yang parkir di sebelah mobil korban.
Ilham sempat melawan, namun kalah jumlah dan akhirnya berhasil dilumpuhkan para penculik. Seorang rekan kerja sempat melihat insiden itu dan melihat mobil pelaku melarikan Ilham, namun tidak sempat menghentikannya. Diduga kuat aksi penculikan ini telah direncanakan dan dieksekusi oleh kelompok penagih utang (debt collector) bayaran suruhan Dwi Hartono.
Esoknya, Kamis, 21 Agustus 2025, sekitar pukul 05.30 WIB, warga menemukan sesosok jenazah pria di semak-semak wilayah Desa Naga Sarì, Serang Baru, Kabupaten Bekasi. Korban kemudian diidentifikasi sebagai Ilham Pradipta.
Kondisinya tragis. Tangan, kaki, dan matanya dilakban, dengan beberapa luka pada tubuh. Polisi memastikan Ilham tewas akibat hantaman benda tumpul di bagian leher dan dada, yang menyebabkan kehabisan oksigen (hipoksia).
Jasad Ilham dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk autopsi, sementara kabar duka segera tersiar ke keluarga dan koleganya.
Aparat Polda Metro Jaya bergerak cepat. Dalam waktu kurang dari 48 jam, empat pelaku penculikan berhasil diringkus. Tiga orang berinisial AT, RS, dan RAH ditangkap di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, sedangkan satu pelaku berinisial RW alias Eras (28) ditangkap saat mencoba kabur melalui Bandara Komodo, Labuan Bajo (NTT).
Eras diketahui adalah seorang debt collector warga NTT yang diduga turut menjadi eksekutor lapangan. Keempat orang ini berperan sebagai penculik (pelaku lapangan) dan bukan otak utama pembunuhan. Penangkapan para pelaku ini sekaligus mengungkap adanya dalang lain yang masih buron, sehingga penyidik terus mengembangkan kasus untuk mengejar aktor intelektual di balik mereka.
Penyelidikan polisi mengarah pada empat aktor intelektual penculikan-pembunuhan Ilham. Polda Metro Jaya akhirnya menangkap DH (Dwi Hartono) bersama dua rekannya YJ dan AA di sebuah lokasi persembunyian di Solo, Jawa Tengah pada 23 Agustus malam.
Keesokan harinya, tersangka keempat berinisial C (alias Ken) dibekuk di kawasan Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Dengan tertangkapnya keempat dalang ini, total delapan tersangka ditahan polisi. Empat sebagai eksekutor lapangan (penculik) dan empat sebagai otak perencanaan.
Dwi Hartono diduga kuat sebagai dalang utama yang mengorganisir penculikan dan mengatur para pelaku lainnya. Seluruh tersangka kini menghadapi proses hukum, sementara polisi mendalami keterangan mereka untuk melengkapi bukti dan mengungkap motif sebenarnya di balik kejahatan keji ini.
Kasus penculikan dan pembunuhan ini menimbulkan guncangan dan keprihatinan publik yang luas. Dari sisi institusi, Bank BRI tempat korban bekerja menyatakan duka mendalam dan menyerahkan sepenuhnya penuntasan kasus kepada kepolisian.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengaku terkejut saat melihat rekaman CCTV penculikan Ilham, di mana korban dipaksa masuk ke mobil oleh pelaku.
“Kami ikut prihatin ya… sepertinya (korban) diculik, saya lihat di videonya itu, masukin mobil terus dibawa. Tahu-tahu meninggal tadi pagi,” ujar Hery di hadapan DPR pada 21 Agustus 2025.
Pihak BRI mendukung penuh proses hukum dan turut mendalami aspek keamanan, termasuk mempertanyakan apakah motif pelaku terkait masalah penagihan atau collection dalam konteks perbankan. Kasus ini menjadi peringatan bagi institusi perbankan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman keamanan yang bisa menimpa pegawai mereka.
Di tengah masyarakat, kasus ini memicu kegemparan dan empati. Keluarga dan rekan kerja Ilham sangat terpukul. Ratusan pelayat menghadiri pemakaman Ilham di TPU Situgede, Bogor, menunjukkan besarnya simpati dan dukungan bagi keluarga korban.
Istri almarhum, PU, meminta aparat mengusut tuntas kasus ini dan menghukum pelaku seberat-beratnya.
“Suami saya orang baik tapi diperlakukan dengan cara tidak baik sampai kehilangan nyawa. Harapan saya pelaku dihukum setimpal, seberat-beratnya,” tegasnya usai pemakaman, seraya bertanya-tanya mengapa suaminya bisa menjadi target kekejaman demikian.
Sementara itu, di Jambi, warga Rimbo Bujang yang dulu mengenal Dwi Hartono sebagai dermawan merasa shok dan tak percaya.
“Yang kami kenal orangnya baik, motivator juga. Kok bisa terjadi (dia) pelaku pembunuhan,” ujar Jay, warga desa, tak menyangka perubahan drastis citra Dwi.
Peristiwa ini menjadi buah bibir nasional, terutama karena dalangnya adalah sosok yang dikenal publik. Netizen pun bereaksi keras. Akun media sosial Instagram Dwi (@klanhartono) diserbu ribuan komentar hujatan sejak terungkapnya keterlibatan Dwi.
Warganet marah dan mengecam tindakan Dwi, mengingat selama ini ia kerap tampil sebagai motivator sukses dengan gaya hidup glamor.
“Dulu sok motivator, sekarang jadi otak pembunuhan,” tulis seorang pengguna mengecam kemunafikan Dwi.
Ada pula yang menyindir bahwa kini Dwi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi.
Analisis Motif Kejahatan Dwi Hartono
Bagaimana seorang yang terlihat baik, dermawan, humble, bahkan aktif menginspirasi banyak orang, ternyata mampu merancang penculikan berujung pembunuhan?
Menelaah motif kejahatan Dwi Hartono berarti menjawab “mengapa seorang dengan profil demikian melakukan penculikan dan pembunuhan?”. Kemungkinan besar, motifnya kompleks, melibatkan faktor psikologis (dorongan pribadi), sosiologis (pengaruh lingkungan/situasi), serta ekonomis (keuntungan materi).
1. Motif Psikologis: Keserakahan, Kebutuhan Dominasi, dan Luka Ego
Dari segi psikologis, motif paling menonjol tampaknya keserakahan finansial (greed). Dwi memperlihatkan tanda-tanda materialistic, yakni mengejar uang dan aset secara agresif sepanjang hidupnya. Kejahatan sebelumnya (jual beli kursi kuliah) bermotif uang.
Gaya hidupnya pun membutuhkan dana besar kontinu. Dengan sifat narsistik, uang bukan sekadar uang, tapi juga lambang prestise dan superioritas. Maka, motif menculik bisa jadi murni mendapatkan uang tebusan besar dengan cepat. Dwi mungkin beranggapan risiko sepadan, apalagi ia bisa “pakai tangan orang lain” (menyuruh kaki tangan). Sifat psikopatnya (kalau ada) akan menghilangkan hambatan empati atau takut berdosa saat merencanakan kekerasan demi uang.
Selain uang, mungkin ada motif psikologis kekuasaan. Menculik dan mengontrol nyawa orang lain bisa memberikan sense of power. Sebagai “aktor intelektual”, Dwi mengatur semuanya bak dalang, ini bisa memuaskan sisi dominan dalam dirinya. Pelaku dengan kepribadian antisosial kadang menikmati thrill dari berhasil mengakali sistem dan memperdaya korban. Apalagi korban adalah kepala cabang bank, menundukkan orang berpangkat bisa jadi kebanggaan tersendiri bagi Dwi.
Tak bisa diabaikan pula kemungkinan motif dendam atau luka ego. Kriminolog Haniva Hasna menyinggung motif seperti perselisihan kerja atau iri prestasi korban. Bila Dwi pernah merasa dirugikan oleh Ilham Pradipta, misal ditolak pengajuan kredit di bank, investasi yang gagal melibatkan korban, atau korban mengetahui praktik ilegal Dwi (misal pencucian uang di bank), maka penculikan bisa bermotif membungkam.
Bahkan jika korban tidak dikenalnya, bisa saja Dwi menyasar Ilham sebagai symbolic target. Kepala bank mewakili institusi yang tak memenuhi keinginannya. Misal, Dwi marah karena pinjaman usaha ditolak BRI, maka ia lampiaskan ke pejabat BRI terdekat.
Sifat narsistik membuat Dwi rentan megalomania. Ia merasa lebih hebat dari pejabat bank, mungkin tak terima diperlakukan biasa saja. Kalau egonya terluka dalam interaksi dengan korban (mungkin korban meremehkan Dwi atau menolak proposalnya), maka penculikan bisa jadi cara “mengajarkan pelajaran” dan memulihkan superioritasnya. Ini spekulasi, tapi motif psikologis semacam ini sering mendorong pelaku kerah putih melakukan kejahatan personal.
2. Motif Sosiologis: Tekanan Status, Norma Menyimpang, dan Opportunisme Lingkungan
Secara sosiologis, motif Dwi tak lepas dari tekanan status sosial. Seperti diuraikan dalam teori strain, Dwi hidup dalam lingkungan yang menuntutnya terus sukses. Ia tak boleh turun kelas setelah terlanjur dikenal kaya. Jadi ketika menghadapi masalah finansial atau reputasi, ia merasa terpojok untuk melakukan apapun demi mempertahankan status.
Dukungan/tuntutan keluarga juga mungkin berperan. Misal keluarganya terbiasa hidup mewah, sehingga bila ada masalah uang, Dwi mendapat tekanan dari dalam rumah tangga agar mencari solusi cepat. Ekspektasi sosial tinggi ini menjadi motif pendorong. Takut malu, takut jatuh miskin. Sehingga ia nekat ambil langkah kriminal.
Dwi tampaknya bergaul dengan lingkaran yang permisif terhadap penyimpangan. Buktinya, ia kenal oknum (“F”) yang bersedia membantunya menculik demi uang. Ini berarti Dwi beroperasi di jaringan di mana norma hukum mudah dibeli. Jika sejak dulu ia biasa menyuap (misal saat kasus 2012 ada kabar kampus mau cabut laporan tapi polisi tolak, menunjukkan Dwi mencoba main belakang), ia mungkin terbiasa bahwa segala masalah bisa diselesaikan dengan uang atau kekuasaan.
Terakhir, motif sosiologis bisa terkait organized crime network. Jika Dwi misalnya bagian dari kelompok lebih besar (misalkan pencucian uang, persaingan bisnis gelap, dll.), maka motivasinya mungkin bukan pribadi semata, melainkan membantu jaringan. Contoh, bisa saja ada figur lebih besar yang mengincar korban, Dwi hanya sebagai sub-dalang. Namun hingga saat ini polisi menempatkan Dwi sebagai salah satu “dalang utama”, sehingga kita anggap motif utamanya pribadi Dwi sendiri.
3. Motif Ekonomis: Keuntungan Finansial dan Menutupi Kerugian
Motif ekonomis secara spesifik mengerucut pada uang tebusan (ransom). Modus operandi penculikan biasanya untuk meminta sejumlah uang penebusan ke keluarga korban atau institusi. Apakah Dwi berhasil mendapatkan tebusan?
Tampaknya tidak, karena korban ditemukan tewas tak lama setelah diculik, dan tidak ada laporan transaksi tebusan. Mungkin rencana awal meminta tebusan namun gagal karena suatu hal, atau memang motifnya bukan tebusan melainkan pemerasan informasi/dokumen yang diketahui korban (seperti disinggung kemungkinan korban tahu dokumen sensitif). Jika motifnya non-cash, misalnya merebut dokumen penting atau rahasia bank, maka itu pun akhirnya bermuara ke motif ekonomis juga (barangkali dokumen terkait skandal uang).
Dwi bisa saja terlibat kasus penggelapan atau fraud yang melibatkan bank, lalu khawatir Ilham Pradipta mengendusnya, sehingga ia berniat menekan korban agar bungkam. Atau sebaliknya, Dwi merasa korban menghalangi peluang uang (contoh: korban mungkin menolak proposal kerjasama bisnis Guruku dengan BRI, dsb). Dalam kedua skenario, intinya motif ekonomi berkelindan dengan motif melindungi kepentingan finansial Dwi.
Ada juga motif ekonomi menutup kerugian. Bila bisnis Dwi merugi, ia mungkin butuh suntikan dana cepat agar tidak bangkrut. Penculikan dianggapnya jalan pintas mendapat ratusan juta hingga miliaran tanpa harus berbisnis biasa.
Terlebih, Dwi tahu targetnya orang bank, diasumsikan mampu membayar tebusan besar atau memiliki akses uang. Hal ini selaras pengakuan penculik bayaran bahwa mereka hanya menculik lalu menyerahkan korban ke “F” di Cawang, dan tak tahu korban bakal dibunuh.
Ini mencurigakan. Mungkin korban dibunuh karena menolak memberikan sesuatu. Bisa jadi Ilham tidak mau/ tidak bisa memenuhi permintaan (uang atau info), sehingga Dwi memerintahkan “habisi”. Dengan korban dibunuh, memang tebusan hilang. Berarti motif pembunuhan akhirnya mungkin untuk menghilangkan saksi agar jejak ke Dwi aman. Di sini motif ekonomis awal (minta tebusan) berujung motif menjaga diri (hindari terbongkar).
Secara ekonomis pula, perlu diperhitungkan biaya kejahatan Dwi. Ia membayar belasan orang (meski sebagian baru DP). Ini menunjukkan ia siap keluar modal besar demi rencana ini. Jadi motif keuntungan finansial yang diincar harus jauh lebih besar daripada biaya. Dugaan, motifnya uang miliaran (mungkin permintaan tebusan ke bank atau keluarga korban). Kalau benar, maka misi Dwi belum tercapai (gagal).
Menariknya, setelah ditangkap, Dwi dikabarkan meminta perlindungan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi & Korban) melalui pengacaranya, berdalih whistleblower karena ada keterlibatan oknum kuat. Ini bisa ditafsirkan bahwa Dwi mencoba menyelamatkan diri dengan menawar informasi, mungkin info tentang oknum F atau lainnya, agar dapat keringanan. Langkah ini pun bermotif ekonomis terselubung. Ia ingin menghindari hukuman berat (yang berarti melindungi aset dan keluarganya ke depan).
Membaca Motif
Berdasarkan integrasi di atas, motif kejahatan Dwi Hartono kemungkinan besar merupakan kombinasi uang dan ego. Financial gain plus personal gratification. Ia menginginkan uang besar untuk menyokong gaya hidup dan usahanya, sekaligus ia menikmati sensasi berkuasa dan outsmarting orang lain. Tekanan status membuat motif uang makin kuat, sedangkan sifat kepribadiannya (narsis-psikopatik) membuat motif kekuasaan dan dendam ego menjadi pemicu tambahan.
Perlu digarisbawahi bahwa belum ada pernyataan resmi motif dari kepolisian karena kasus masih berjalan. Namun pola kasus serupa sering kali mengerucut pada motif ekonomi. Haniva Hasna menyebut, kemungkinan motif bisa saja “perebutan jabatan atau iri prestasi korban” atau untuk “menutupi skandal (dokumen sensitif)”.
Menarik bahwa kedua motif itu pun berakar pada kepentingan ekonomi atau karier. Jadi semua analisis mengarah ke motif materi, baik langsung (tebusan) maupun tak langsung (menjaga bisnis/karier).
Dari perspektif psikologi kriminal, motif Dwi tak lepas dari sifat serakah dan amoralnya. Seorang psikopat niscaya melihat manusia lain hanya sebagai pion. Bagi Dwi, Ilham Pradipta barangkali cuma “rintangan atau objek” untuk dieksploitasi.
Motif pembunuhan muncul ketika si objek tak lagi berguna atau malah membahayakan si pelaku. Sehingga begitu korban tak mau bekerja sama (misal enggan beri PIN rekening atau rahasia), Dwi memerintahkan eliminasi.
Motif Dwi Hartono dapat disimpulkan sebagai memperoleh keuntungan finansial besar secara cepat dan/atau mengamankan kepentingan pribadi (ekonomi maupun ego), dengan mengorbankan nyawa orang lain bila perlu.
Inilah motif kriminal khas perpaduan motif instrumental (ada tujuan nyata berupa uang) dan motif ekspresif (meluapkan kekuasaan/kemarahan tersembunyi). Gabungan motif ini sering ditemukan pada pelaku-pelaku kriminal berprofil serupa Dwi di berbagai belahan dunia.(*)
Add new comment