Bungo – Tender proyek Pembangunan Jalan Paket II di Kabupaten Bungo tahun anggaran 2026 masuk tahap Masa Sanggah.
Nilainya bulat. Pagu paket tercatat Rp3.000.000.000. HPS-nya juga sama persis Rp3.000.000.000.
Proyek ini berada di bawah Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bungo. Sumber dananya APBD 2026.
Jenis pengadaannya pekerjaan konstruksi. Metode pengadaannya Tender - Pascakualifikasi Satu File - Harga Terendah Sistem Gugur. Tender ini tidak menggunakan Reverse Auction.
Jenis kontraknya Gabungan Lumsum dan Harga Satuan.
Ada dua lokasi pekerjaan yang masuk dalam paket ini, yakni Jalan Desa Sungai Buluh dan Jalan Desa Sungai Mengkuang, Kabupaten Bungo.
Sekilas, tender ini tampak seperti proyek jalan biasa. Tapi ketika data evaluasi dibaca pelan-pelan, ada beberapa titik yang patut disorot.
Pertama, pagu dan HPS sama persis Rp3 miliar.
Kedua, ada 11 peserta tercatat dalam tender.
Ketiga, hanya 1 peserta yang benar-benar memasukkan harga penawaran.
Keempat, pemenangnya adalah Kurnia Dua Project, perusahaan lokal beralamat di Kerikil RT 002 RW 000, Sungai Arang, Bungo Dani, Kabupaten Bungo, Jambi.
Kelima, harga penawarannya Rp2.998.207.296,02. Harga terkoreksi dan harga negosiasinya juga sama: Rp2.998.207.296,02.
Artinya, penawaran Kurnia Dua Project hanya turun Rp1.792.703,98 dari HPS.
Jika dihitung persentase, penurunan itu hanya sekitar 0,06 persen.
Nyaris menempel HPS.
Rincian Tender
| No | Uraian | Detail |
|---|---|---|
| 1 | Kode Tender | 10135646000 |
| 2 | Nama Tender | Pembangunan Jalan Paket II |
| 3 | Kode RUP | 67098660 |
| 4 | Nama Paket | Pembangunan Jalan Paket II |
| 5 | Sumber Dana | APBD |
| 6 | Uraian Singkat | LINGKUP PEKERJAAN PMB JALAN PKT II TERBARU.pdf |
| 7 | Tanggal Pembuatan | 12 Mei 2026 |
| 8 | Tahap Saat Ini | Masa Sanggah |
| 9 | K/L/PD | Kabupaten Bungo |
| 10 | Satuan Kerja | Dinas PUPR Kabupaten Bungo |
| 11 | Jenis Pengadaan | Pekerjaan Konstruksi |
| 12 | Metode | Tender - Pascakualifikasi Satu File - Harga Terendah Sistem Gugur |
| 13 | Reverse Auction | Tidak menggunakan Reverse Auction |
| 14 | Tahun Anggaran | APBD 2026 |
| 15 | Nilai Pagu | Rp3.000.000.000 |
| 16 | Nilai HPS | Rp3.000.000.000 |
| 17 | Jenis Kontrak | Gabungan Lumsum dan Harga Satuan |
Lokasi Pekerjaan
| No | Ruas Jalan | Lokasi |
|---|---|---|
| 1 | Jalan Desa Sungai Buluh | Bungo |
| 2 | Jalan Desa Sungai Mengkuang | Bungo |
Dua ruas ini penting bagi warga.
Jalan desa bukan hanya urusan aspal. Ia menyangkut akses kebun, akses sekolah, akses pasar, akses layanan kesehatan, dan mobilitas harian masyarakat.
Karena itu, proses tendernya juga ikut penting.
Jika tendernya sehat, publik berharap hasilnya kuat. Jika tendernya sepi persaingan, publik wajar bertanya.
Kurnia Dua Project Jadi Pemenang
Berdasarkan data pemenang, Kurnia Dua Project beralamat di Kerikil RT 002 RW 000, Sungai Arang, Bungo Dani, Kabupaten Bungo, Jambi.
NPWP perusahaan tercatat 10*0**0****69**0.
| No | Uraian | Detail |
|---|---|---|
| 1 | Nama Pemenang | Kurnia Dua Project |
| 2 | Alamat | Kerikil RT 002 RW 000, Sungai Arang, Bungo Dani, Bungo |
| 3 | NPWP | 10*0**0****69**0 |
| 4 | Harga Penawaran | Rp2.998.207.296,02 |
| 5 | Harga Terkoreksi | Rp2.998.207.296,02 |
| 6 | Harga Negosiasi | Rp2.998.207.296,02 |
Nilai penawaran Kurnia Dua Project hanya lebih rendah Rp1.792.703,98 dari HPS.
Dalam tender senilai Rp3 miliar, selisih di bawah Rp2 juta tentu sangat tipis.
Secara aturan, ini tidak otomatis salah. Penawaran dekat HPS bisa saja terjadi karena hitungan harga material, ongkos alat, tenaga kerja, risiko lapangan, dan margin perusahaan.
Namun dalam tender dengan satu penawar aktif, selisih setipis ini patut dicermati lebih serius.
Apakah kewajaran harga sudah diuji? Apakah harga satuan sudah dibedah? Apakah volume pekerjaan terbuka? Apakah ada efisiensi yang benar-benar muncul? Atau tender ini berjalan nyaris tanpa kompetisi harga?
11 Peserta, Satu Penawar
Dalam hasil evaluasi Pokja, tercatat 11 peserta.
Namun hanya Kurnia Dua Project yang memasukkan harga penawaran.
Sepuluh peserta lain tidak terlihat mengajukan harga dalam data evaluasi.
| No | Peserta | Hasil Evaluasi |
|---|---|---|
| 1 | Kurnia Dua Project | Menawar Rp2.998.207.296,02. Harga terkoreksi dan negosiasi sama. Menjadi pemenang |
| 2 | CV Aura Kontruksi | Tidak tercatat harga penawaran |
| 3 | CV Dita Kontraktor | Tidak tercatat harga penawaran |
| 4 | CV Tekad Maju Bersama | Tidak tercatat harga penawaran |
| 5 | PT Karya Putra Batanghari | Tidak tercatat harga penawaran |
| 6 | CV Tata Karya Pratama | Tidak tercatat harga penawaran |
| 7 | Sayna Arisya Persada | Tidak tercatat harga penawaran |
| 8 | CV Daeng Siginjai 9 | Tidak tercatat harga penawaran |
| 9 | CV Lumbung Agroendo | Tidak tercatat harga penawaran |
| 10 | PT Sekanthi | Tidak tercatat harga penawaran |
| 11 | CV Karya Pratama Kencana | Tidak tercatat harga penawaran |
Satu lagi yang menarik adalah pagu dan HPS sama persis.
Pagu: Rp3.000.000.000.
HPS: Rp3.000.000.000.
Dalam pengadaan, HPS bisa saja sama dengan pagu jika hasil perhitungan memang demikian. Namun secara pengawasan publik, angka yang sama persis selalu mengundang pertanyaan.
Apakah HPS disusun berdasarkan survei harga yang memadai?
Apakah ada rincian volume dan harga satuan?
Apakah ada ruang efisiensi?
Apakah harga material dan ongkos pekerjaan sudah mengikuti kondisi pasar?
Pertanyaan itu semakin kuat karena pemenang hanya menawar sedikit di bawah HPS.
Tender ini memperlihatkan pola yang kini sering muncul dalam sejumlah paket proyek jalan.
Daftar peserta ramai.
Namun yang benar-benar menawar hanya satu.
Dalam tender ini, ada 11 peserta tercatat. Tapi 10 peserta lain tidak mengajukan harga.
Akhirnya, Kurnia Dua Project melenggang sendirian.
Secara aturan, satu penawar aktif tidak otomatis membuat tender bermasalah. Namun dalam logika publik, tender semacam ini terasa kurang kompetitif.
Tender adalah ruang pertandingan.
Jika hanya satu yang benar-benar bertanding, maka publik berhak bertanya: mengapa peserta lain mundur? Apakah syarat dokumen terlalu berat? Apakah harga tidak menarik? Apakah pekerjaan sudah terbaca mengarah? Atau peserta lain memang hanya “pajangan” dalam daftar?
Pertanyaan itu perlu dijawab agar tender tidak kehilangan kepercayaan publik.
Sejumlah warga Bungo berharap pembangunan jalan di Sungai Buluh dan Sungai Mengkuang benar-benar dikerjakan dengan kualitas baik.
Seorang warga, Bambang, mengatakan jalan desa sangat dibutuhkan masyarakat.
“Kalau jalan dibangun, kami tentu senang. Tapi jangan asal jadi. Jalan itu dipakai warga tiap hari. Kalau baru selesai lalu cepat rusak, yang rugi masyarakat,” ujarnya.
Warga lainnya, Sahrudin, menyoroti minimnya persaingan dalam tender.
“Pesertanya 11, tapi yang nawar cuma satu. Ini yang bikin masyarakat bertanya. Tender itu harusnya ada persaingan. Kalau cuma satu, pengawasannya harus lebih ketat,” katanya.
Sementara warga lain menilai harga yang hanya turun tipis dari HPS perlu dijelaskan.
“Kalau HPS Rp3 miliar, pemenang nawar Rp2,998 miliar, selisihnya kecil sekali. Pokja harus benar-benar cek harga satuannya,” ujarnya.(*)