Aksi protes nasional memanas. Jambi, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Makassar, Medan. Pemicu, tewasnya Affan dan isu tunjangan DPR. Gas air mata, molotov, gedung rusak.
***
Jambi
Di Jambi, ratusan mahasiswa, pelajar, dan pengemudi ojek online (ojol) berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Provinsi Jambi pada 29 Agustus 2025. Aksi yang mulanya berjalan damai berubah ricuh ketika massa memaksa masuk ke halaman gedung dewan dan diadang barikade polisi.
Demonstran melempari gedung dengan batu dan kayu, memecahkan kaca jendela kantor DPRD, serta merobohkan pagar gedung. Bahkan, sebuah mobil dinas sekretariat DPRD turut dibakar oleh massa di area parkir belakang gedung.
Polisi merespons dengan tembakan gas air mata dan semprotan water cannon untuk memukul mundur massa yang semakin tidak terkendali. Tiga polisi dilaporkan terluka terkena lemparan batu dalam bentrokan ini. Aksi di Jambi dipicu oleh kemarahan atas tewasnya Affan Kurniawan – pengemudi ojol yang sehari sebelumnya dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta – serta kekecewaan terhadap isu kenaikan tunjangan bagi anggota dewan yang dianggap melukai hati rakyat. Hingga sore hari, massa masih bertahan sambil membakar ban dan meneriakkan yel-yel, menuntut keadilan atas kematian rekan mereka dan meminta aparat mengusut tuntas kasus tersebut. Situasi baru mereda menjelang petang setelah aparat berhasil mengamankan area gedung dewan.
Namun, massa aksi kembali bergerak di malam hari. Bahkan makin beringas. Dini hari, massa membakar pos polisi simpang BI. Mobil wartawan yang terparkir di halaman Kejati Jambi juga dibakar massa.
Bandung (Jawa Barat)
Di Bandung, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus bergabung dengan para driver ojol menggelar aksi solidaritas di depan Gedung DPRD Jawa Barat pada 29 Agustus 2025. Mereka menuntut pengusutan tuntas kasus tewasnya Affan Kurniawan dan menyuarakan kekecewaan terhadap aparat keamanan yang dinilai represif
Unjuk rasa yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB ini berlangsung panas di tengah hujan deras. Massa melempari halaman gedung dengan botol, batu, dan petasan, bahkan sempat melempar bom molotov ke arah polisi. Sebuah bom molotov mengakibatkan api membakar sebagian kendaraan polisi yang terparkir di halaman gedung. Di sekitar lokasi, sebuah rumah dinas aset MPR RI yang berada di seberang Gedung DPRD turut hangus terbakar setelah dilempari molotov oleh oknum demonstran.
Sejumlah fasilitas umum di sekitar gedung dewan rusak dan terbakar akibat kericuhan ini. Aparat kepolisian akhirnya menembakkan gas air mata secara bertubi-tubi untuk membubarkan massa yang kian beringas. Sedikitnya 201 orang, mayoritas mahasiswa, dilaporkan terkena dampak gas air mata dan harus mendapat perawatan darurat di posko medis kampus terdekat.
Di tengah kepulan gas air mata, massa mundur perlahan. Beberapa poster aksi yang ditemukan di lokasi menyerukan tuntutan ekstrem seperti “bubarkan DPR” dan “bubarkan Polri” sebagai luapan kemarahan massatirto.id. Hingga menjelang malam, situasi berangsur kondusif setelah Gubernur Jawa Barat turun menemui pengunjuk rasa dan aparat meningkatkan pengamanan di sekitar Gedung DPRD.
Jakarta
Di Jakarta, gelombang demonstrasi terbesar terjadi di banyak titik strategis sejak siang hingga larut malam 29 Agustus 2025. Ribuan mahasiswa dan pengemudi ojol tumpah ruah di sekitar kompleks Parlemen Senayan (DPR/MPR RI) dan Markas Polda Metro Jaya.
Di depan gerbang Polda Metro Jaya, massa memaki aparat sambil merusak sebuah mobil sedan dinas Provost Polda – memecahkan kaca dan memukul penyok bodinya. Menjelang malam, sebuah halte TransJakarta di dekat gerbang Polda Metro turut dibakar oleh oknum demonstran, membuat kobaran api besar dan asap hitam membumbung tinggi di sekitar lokasi.
Sementara itu di kawasan Senayan, demonstran mengepung Gedung DPR/MPR dan bahkan nekat menutup ruas Tol Dalam Kota di depan gedung dengan membalik separator jalan. Massa melempari gerbang utama DPR dengan botol dan batu seraya meneriakkan yel-yel “Pembunuh!” dan menuntut masuk untuk menyampaikan aspirasi.
Aparat kepolisian dan TNI yang berjaga semula menahan diri, namun akhirnya terpaksa menembakkan gas air mata serta menyemprot water cannon ketika massa mulai melemparkan bom molotov dan kembang api ke arah petugas. Bentrokan sengit pun pecah; suara tembakan gas air mata dan petasan bersahut-sahutan di jalan Gatot Subroto hingga flyover Senen. Akibat kerusuhan ini, lalu lintas Jakarta pusat lumpuh dan ambulans hilir mudik mengevakuasi korban luka dari kedua belah pihak.
Kericuhan juga meluas ke wilayah lain di Jakarta. Sekelompok massa mendatangi Markas Brimob di Kwitang, Senen, melampiaskan amarah atas tewasnya Affan dengan melempari petugas dengan batu dan kembang api. Polisi sempat bertahan tanpa perlawanan di depan Mako Brimob, namun setelah sekitar 30 menit terdesak, aparat menembakkan gas air mata sehingga ribuan demonstran kocar-kacir menuju Pasar Senen.
Sementara itu di Jakarta Timur, Kantor Polres Metro Jaktim diserang ratusan orang. Massa mengamuk dengan membakar lima kendaraan dinas (dua truk, satu mobil ambulans, satu mobil pikap, dan satu double cabin) di halaman Polres. Mereka juga menghujani kompleks Polres dengan lemparan hampir seratus bom molotov dan kembang api rakitan. Api sempat membesar, namun petugas berhasil mencegah si jago merah merembet ke gedung utama Polres. Dalam insiden ini tidak ada laporan korban jiwa dari pihak kepolisian, namun sejumlah personel terluka terkena lemparan.
Setelah tengah malam, situasi Ibu Kota perlahan dapat dikendalikan aparat gabungan Brimob dan TNI. Para demonstran akhirnya mundur setelah tuntutan mereka didengar perwakilan pemerintah. Di Jakarta, para demonstran fokus menuntut pertanggungjawaban hukum terhadap tujuh oknum Brimob yang menabrak Affan hingga tewasl. Seruan agar para pelaku diadili dan dihukum berat menggema di setiap lokasi aksi.
Beberapa kelompok juga menyuarakan tuntutan lebih luas, seperti reformasi institusi Polri/TNI dan perbaikan sikap DPR yang dinilai abai terhadap suara rakyat. Pada 30 Agustus dini hari, Kapolri Jenderal Listyo Sigit menegaskan bahwa ketujuh anggota Brimob tersebut sudah ditahan Propam dan akan diproses hukum, sementara Ketua DPR RI menyampaikan permintaan maaf kepada publik dan berjanji meninjau kembali kebijakan tunjangan DPR.
Yogyakarta (DIY)
Di Yogyakarta, aksi demonstrasi berlangsung ricuh di depan Mapolda DIY pada Jumat sore, 29 Agustus 2025. Ribuan massa yang tergabung dalam aliansi Jogja Memanggil – terdiri dari mahasiswa, masyarakat umum, serta driver ojol – memadati jalan Ring Road Utara sejak pukul 15.00 WIB. Sekitar pukul 18.00 WIB, massa mulai merangsek ke gerbang Polda DIY meski gedung Polda telah ditutup dan dikosongkan sejak sore. Demonstran menjebol gerbang utama Mapolda dan merusak fasilitas di halaman kantor polisi tersebut.
Dua unit mobil patroli yang terparkir di pelataran Polda diserang dan dibakar massa hingga hangus. Massa juga melempari petugas dengan batu dan kembang api, serta merusak papan nama Polda DIY sebagai bentuk protes. Polisi berupaya membubarkan kerumunan dengan tembakan gas air mata, membuat massa berlarian ke berbagai arah dan menyebabkan arus lalu lintas di Ring Road Utara lumpuh total.
Kericuhan ini mengakibatkan kawasan utara Yogyakarta mencekam pada malam hari; suara letusan gas air mata dan teriakan demonstran terdengar hingga radius ratusan meter. Beberapa warga sekitar turut terdampak, termasuk pedagang kaki lima yang terkena paparan gas air mata di sekitar lokasi bentrok.
Para peserta aksi di Yogyakarta membawa isu-isu tuntutan yang keras. Mereka mendesak diusut tuntasnya kasus kematian Affan Kurniawan dan meminta pelaku penabrakan dihukum seberat-beratnya. Orator aksi bahkan menyerukan hukuman mati bagi anggota Brimob yang menabrak Affan, sambil mengaitkan tuntutan dengan kasus-kasus lain seperti tragedi Kanjuruhan 2022 dan kematian aktivis Afif Maulana – menegaskan agar seluruh praktik brutalitas aparat diusut tuntas tanpa tebang pilih.
Selain itu, aliansi Jogja Memanggil menyuarakan kemarahan terhadap DPR. Mereka meneriakkan slogan “Bubarkan DPR RI” dan menuntut pembatalan tunjangan perumahan bagi anggota DPR yang dinilai tidak peka terhadap penderitaan rakyatliputan6.com. Terdengar pula desakan agar Kapolri Listyo Sigit Prabowo dicopot dari jabatannya karena dianggap gagal membina anggotanya, serta ajakan untuk mereformasi institusi Polri dan TNI secara menyeluruh.
Menjelang pukul 20.00 WIB, situasi di Mapolda DIY berangsur kondusif setelah polisi berhasil memukul mundur massa ke arah barat Ring Road dengan tembakan gas air mata susulan. Massa kemudian membubarkan diri sambil berjanji akan menggelar aksi lanjutan yang lebih besar pada pekan berikutnya hingga tuntutan mereka ditindaklanjuti.
Surabaya (Jawa Timur)
Di Surabaya, Jawa Timur, aksi solidaritas atas tewasnya Affan Kurniawan dipusatkan di dua lokasi utama: kawasan Gedung Negara Grahadi dan sepanjang jalan protokol Kota Surabaya pada 29 Agustus 2025. Sekitar pukul 14.30 WIB, ratusan massa yang terdiri dari elemen masyarakat sipil, mahasiswa, dan driver ojol berkumpul di depan Grahadi – kantor Gubernur Jawa Timur – untuk menyampaikan protes terhadap tindakan represif aparat yang menewaskan rekan mereka.
Orasi kecaman terhadap “kebrutalan polisi” bergema di depan kantor gubernur. Situasi memanas ketika demonstran mulai mendobrak gerbang Grahadi dan mencoba menerobos masuk ke halaman dalam. Terjadi aksi dorong dengan petugas keamanan, diikuti lemparan batu dan pecahan semen ke arah polisi yang berjaga di dalam kompleks. Massa yang beringas juga membakar belasan sepeda motor yang terparkir di halaman depan Grahadi – tercatat 12 unit motor hangus dilalap api di area parkir.
Kobaran api sempat membakar bagian halaman Grahadi, dan pagar depan gedung jebol dirusak massa. Polisi berusaha menenangkan massa dengan pengeras suara, namun tidak diindahkan. Akhirnya aparat menyemprotkan air dari water cannon dan menembakkan gas air mata untuk memukul mundur demonstran dari halaman Grahadi. Bentrokan baru mereda menjelang sore setelah massa terpencar ke ruas-ruas jalan sekitar.
Kerusuhan di Surabaya berlanjut hingga malam hari di berbagai titik kota. Massa yang mundur dari Grahadi memindahkan aksi ke Jalan Raya Darmo dan kawasan Taman Bungkul. Menjelang pukul 22.00 WIB, sekelompok demonstran menutup sebagian Jalan Darmo dan membakar sebuah pos pantau polisi lalu lintas di depan Taman Bungkul. Pos polisi itu ludes terbakar sebelum petugas sempat tiba di lokasi. Selain itu, dilaporkan sejumlah pos polisi lain di jalur utama kota (seperti di Jalan Panglima Sudirman hingga Bundaran Waru) juga dirusak dan dibakar oleh oknum massa pada malam hari.
Beberapa kelompok massa sempat menyasar kantor Polsek terdekat (Polsek Tegalsari), melempari kaca dan merusak fasilitas sebelum akhirnya membubarkan diri saat aparat tambahan tiba. Aksi vandalisme ini membuat jantung Kota Surabaya mencekam; jalan-jalan protokol sepi dengan sisa-sisa barikade dan bekas bakaran ban berserakan. Kapolda Jawa Timur menegaskan bahwa penggunaan gas air mata dan tindakan tegas di Grahadi sudah sesuai SOP untuk mencegah massa merangsek lebih jauh. Aparat gabungan TNI-Polri kemudian berpatroli di pusat kota pada malam itu untuk memulihkan keamanan.
Adapun tuntutan utama demonstran di Surabaya senada dengan daerah lain: mengusut tuntas kematian Affan dan menghukum aparat yang bertanggung jawab. Massa juga mengecam DPR yang dinilai sibuk mengurus tunjangan di tengah kesulitan rakyat, sembari menyerukan reformasi aparat keamanan agar peristiwa serupa tak terulang. Menjelang tengah malam, api di pos-pos polisi berhasil dipadamkan dan situasi berangsur terkendali setelah sejumlah tokoh masyarakat dan ulama turun tangan menenangkan massa.
Makassar (Sulawesi Selatan)
Di Makassar, Sulawesi Selatan, demonstrasi pada 29 Agustus 2025 berkembang menjadi salah satu yang paling rusuh dengan dampak destruktif terbesar. Aksi awal dimulai sore hari di kawasan kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) Jalan A.P. Pettarani, di mana ratusan mahasiswa memblokade jalan raya antarprovinsi dengan kontainer dan membakar ban bekas sebagai bentuk protes.
Arus lalu lintas di sepanjang Pettarani macet total akibat blokade ini. Para orator menyuarakan solidaritas atas meninggalnya Affan Kurniawan, sembari menuntut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mundur dari jabatannya karena dianggap gagal mencegah arogansi aparat. Menariknya, pada tahap awal aksi di sekitar kampus, tak tampak satu pun aparat kepolisian melakukan pengamanan langsung di lokasi. Demonstrasi mahasiswa tersebut berlangsung kondusif hingga menjelang petang, ditandai pembacaan doa dan salat gaib bersama untuk almarhum Affan.
Namun memasuki malam hari, situasi Makassar berubah drastis. Ribuan massa gabungan bergerak menuju Kantor DPRD Kota Makassar di Jalan Pettarani dan mulai mengepung gedung wakil rakyat tersebut saat hari beranjak gelap. Emosi massa memuncak setelah mengetahui aksi di Jakarta dan kota lain berlangsung rusuh tanpa hasil dialog memadai. Sekitar pukul 21.30 WITA, massa merobohkan pagar kantor DPRD Makassar dan menyerbu masuk ke halaman depan maupun belakang gedung.
Kendaraan apapun yang ada di kompleks itu menjadi sasaran amuk: puluhan sepeda motor dan mobil dinas dibakar hingga meledak satu per satu. Tak lama kemudian, api membesar dan merambat ke bangunan utama DPRD Makassar. Dalam sekejap, gedung berlantai empat itu dilalap si jago merah yang membumbungkan api setinggi puluhan meter di angkasa. Gedung DPRD Makassar akhirnya ludes terbakar – pemandangan dramatis yang disaksikan langsung oleh ratusan demonstran yang mundur ke pinggir jalan sembari bersorak dan merekam kobaran api.
Suara ledakan terdengar berulang kali saat api menghanguskan atap dan lantai gedung, memicu kepanikan warga di sekitar lokasi. Mobil pemadam kebakaran yang dikerahkan pun kesulitan menjinakkan api karena massa menghalangi akses dan kobaran sudah terlanjur besar. Ironisnya, hingga gedung DPRD habis terbakar, nyaris tidak terlihat kehadiran aparat keamanan skala besar di titik tersebut. Diduga, sebagian personel sibuk mengamankan obyek vital lain sehingga lokasi DPRD luput dari penjagaan ketat. Baru setelah api melalap habis kantor dewan, pasukan Brimob dan petugas damkar leluasa masuk untuk mengamankan area dan memadamkan sisa api.
Kerusuhan di Makassar ini mengakibatkan korban jiwa. Dua orang dilaporkan tewas akibat terjebak dalam gedung DPRD yang terbakar – salah satunya seorang pejabat Kasi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Ujung Tanah, dan satu korban lagi perempuan yang belum teridentifikasi. Selain itu, sepuluh orang lainnya dilarikan ke rumah sakit karena luka-luka dan paparan asap, tersebar di RS Grestelina, Hermina, Faisal, hingga RS Bhayangkara. Wali Kota Makassar yang kebetulan sedang berada di gedung DPRD untuk rapat paripurna nyaris turut menjadi korban, namun berhasil dievakuasi aparat sesaat sebelum api membesar.
Terkait tuntutan, demonstran Makassar awalnya mengekspresikan hal serupa dengan kota lain – keadilan untuk Affan dan protes terhadap arogansi aparat. Namun eskalasi di Makassar lebih dipicu kondisi chaos nasional dan akumulasi kekecewaan lokal. Sejumlah spanduk dan coretan di dinding sekitar DPRD Makassar terbaca slogan “Revolusi” dan cacian terhadap institusi pemerintah. Beberapa kelompok bahkan menurunkan foto-foto pejabat daerah di dalam gedung sebelum membakarnya di jalan.
Aparat keamanan baru berhasil menguasai keadaan mendekati tengah malam, setelah mendatangkan tambahan pasukan TNI dan menutup akses jalan di sekitar DPRD. Pada 30 Agustus dini hari, Kota Makassar mencekam dengan penjagaan ketat di pusat kota. Gubernur Sulsel dan Kapolda Sulsel turun langsung meninjau lokasi kejadian, berjanji mengusut pelaku kerusuhan dan mengevaluasi pengamanan objek vital. Meskipun situasi sudah kondusif keesokan harinya, insiden di Makassar meninggalkan duka mendalam dan menjadi puncak dari rangkaian demonstrasi anarkis di berbagai wilayah Indonesia.
Medan (Sumatera Utara)
Di Medan, Sumatera Utara, aksi unjuk rasa digelar di depan Kantor DPRD Sumut pada 29 Agustus 2025 dengan massa sekitar 200–300 orang. Demonstrasi ini diikuti elemen mahasiswa dan komunitas ojol yang membawa poster bertuliskan “Jangan Lindas Kami” sebagai ungkapan solidaritas untuk Affan Kurniawan. Situasi sempat terkendali pada siang hari, diwarnai orasi dan teaterikal sindiran terhadap pejabat. Massa meneriakkan yel “Pembunuh!” di hadapan aparat kepolisian sebagai luapan kemarahan.
Memasuki sore, tensi meningkat ketika ratusan peserta aksi tambahan berdatangan dari berbagai penjuru Kota Medan. Massa mencoba merangsek masuk ke kompleks gedung DPRD Sumut, tetapi dihalau barikade polisi anti huru-harati. Kericuhan pun pecah: demonstran melempari petugas dengan batu dan kembang api, sementara polisi membalas dengan tembakan water cannon dan gas air mata sekitar pukul 17.30 WIB.
Dalam kekacauan itu, massa sempat membakar sebuah pos pantau lalu lintas (Pos Polantas) yang berada tidak jauh dari gerbang DPRD. Api berkobar di pos polisi tersebut, namun berhasil dipadamkan sebelum merembet. Beberapa polisi dan pengunjuk rasa mengalami luka ringan akibat lemparan objek, tetapi tidak ada laporan korban serius. Polda Sumut menyatakan kericuhan ini diduga ditunggangi kelompok anarko yang bukan bagian dari mahasiswa maupun ojol. Aparat mengamankan 19 orang pelaku provokasi yang kedapatan membawa bom molotov dan senjata tajam.
Menjelang pukul 18.00 WIB, massa di Medan membubarkan diri setelah perwakilan DPRD Sumut bersedia menemui mereka di luar gedung untuk berdialog singkat. Dalam dialog tersebut, demonstran menyampaikan dua tuntutan utama: pertama, usut dan adili aparat yang menabrak Affan hingga tewas; kedua, batalkan rencana penambahan tunjangan perumahan bagi anggota dewan yang dianggap mencederai nurani publik. Situasi Kota Medan kembali kondusif pada malam harinya, dengan aparat masih berjaga di titik-titik rawan untuk mencegah aksi susulan.(*)
Add new comment