Ahmad Sahroni, anggota DPR RI dari Fraksi NasDem yang dikenal sebagai “Crazy Rich Tanjung Priok,” menjadi sorotan publik akibat pernyataannya yang kontroversial. Dalam kunjungan kerja di Medan pada 22 Agustus 2025, Sahroni menanggapi maraknya aspirasi pembubaran DPR pasca-isu kenaikan tunjangan dengan menyebut pendukung gagasan itu bermental “tertlol sedunia”.
Ucapan bernada menghina rakyat tersebut memicu gelombang kecaman luas. Di media sosial, tagar seperti #BubarkanDPR menggema, dan warganet menyerbu akun Sahroni dengan kritik tajam. Seorang influencer diaspora, Salsa Erwina, bahkan menantang Sahroni debat terbuka soal tunjangan DPR melalui video TikTok yang viral pada 26 Agustus 2025.
Situasi ini terjadi bersamaan dengan meningkatnya tensi sosial akibat isu lain. Dua hari sebelum kerusuhan di rumah Sahroni, seorang pengemudi ojek daring (ojol) tewas terlindas kendaraan taktis polisi saat demonstrasi di Jakarta. Insiden tersebut menyulut solidaritas luas. Unjuk rasa merebak di berbagai kota menuntut keadilan dan memprotes arogansi aparat. Gelombang demonstrasi anti-DPR juga terjadi di Senayan dan daerah lain, dipantik oleh kombinasi isu kenaikan tunjangan DPR dan kemarahan atas tindakan represif aparat.
Dengan latar inilah, Ahmad Sahroni – yang kebetulan adalah Wakil Ketua Komisi III DPR RI bidang hukum – menjadi simbol kekecewaan publik. Meskipun ia kemudian dicopot dari jabatan pimpinan komisi dan dirotasi ke Komisi I pada 29 Agustus 2025, langkah tersebut tak cukup meredam kemarahan massa. Keesokan harinya, amuk massa tak terhindarkan di kediaman pribadi Sahroni.
Kronologi Kerusuhan di Kediaman Sahroni
Kerusuhan bermula sejak Jumat, 29 Agustus 2025, ketika sekelompok warga menggelar aksi protes di depan rumah Ahmad Sahroni di Jalan Swasembada Timur XXII, Kebon Bawang, Tanjung Priok. Menurut kesaksian warga setempat, unjuk rasa pada hari pertama berlangsung damai tanpa kekerasan. Memasuki Sabtu, 30 Agustus 2025, massa kembali berkumpul sejak sekitar pukul 15.00 WIB. Mereka berorasi dan meneriakkan kekecewaan di depan rumah mewah milik Sahroni yang tertutup rapat. Awalnya situasi masih terkendali; massa terbatas di luar pagar rumah yang tinggi dan terkunci.
Menjelang sore (sekitar pukul 16.00-17.00 WIB), situasi berubah drastis. Tiba-tiba datang gerombolan remaja bermotor – digambarkan sebagai rombongan ABG tak dikenal – dari luar lingkungan setempat. Kelompok inilah yang memicu kericuhan. Mereka mulai melempari rumah Sahroni dengan batu dan benda keras, memancing massa lain ikut beringas.
Puncaknya, gerbang besi hitam rumah nomor 52 itu dijebol paksa hingga roboh ke jalan. Puluhan orang langsung merangsek masuk ke halaman dan teras rumah. Sekitar pukul 16.40 WIB, video viral di media sosial X memperlihatkan massa telah memenuhi garasi kediaman Sahroni dan menghancurkan satu unit mobil mewah di dalamnya. Tak lama berselang, pintu utama rumah berhasil didobrak dan ratusan orang tumpah ruah memasuki interior rumah dua lantai tersebut.
Kerusuhan berlangsung selama beberapa jam. Menjelang maghrib hingga malam hari, massa masih bebas berkeliaran di dalam rumah. Sekitar pukul 18.00 WIB, massa bahkan sempat mendorong keluar sebuah mobil antik Porsche berwarna merah dari garasi untuk kemudian dirusak beramai-ramai di jalan. Situasi mencekam pun baru mereda setelah rumah Sahroni porak poranda dan massa puas menjarah seisinya.
Menurut penuturan warga sekitar, massa yang terlibat kerusuhan terdiri dari dua lapisan. Pertama, sekelompok warga lokal Tanjung Priok yang sejak awal berniat berdemo secara damai, dan kedua, gerombolan pemuda luar area yang datang belakangan dan memicu aksi anarkis.
Warga setempat mengaku aksi tanggal 29-30 Agustus awalnya hanyalah unjuk rasa spontan oleh tetangga sekitar yang tersinggung ucapan Sahroni. Namun, ketika rombongan ABG dari daerah lain seperti Bahari, Cilincing, hingga Kemayoran mulai berdatangan, situasi berbalik menjadi aksi brutal dan penjarahan.
“Tadinya kami cuma demo doang, nggak kayak gini. Kalau begini kan emang udah niat penjarahan,” ujar seorang warga yang menyaksikan kejadian.
Kelompok perusuh remaja itu digambarkan bertindak terorganisir. Begitu tiba, mereka langsung merusak pagar, memecahkan kaca, lalu menyerbu masuk tanpa ragu. Beberapa di antara mereka tampak membawa peralatan seperti balok kayu yang digunakan menghantam properti di dalam rumah.
Sifat vandalis dan opportunistic crowd terlihat ketika barang-barang berharga diburu dan dibawa kabur. Aparat berwenang menduga massa perusuh bukanlah warga Kebon Bawang sendiri, melainkan orang-orang luar yang memang kesal atas ucapan Sahroni atau sekadar mencari kesempatan menjarah.
Kerusakan dan Penjarahan
Dampak dari amuk massa di kediaman Sahroni sangat parah. Bagian depan rumah bertingkat itu rusak berat: pagar besi hancur roboh, kaca jendela pecah berantakan, dan tembok eksterior mengalami kerusakan akibat lemparan batu.
Begitu memasuki halaman, massa melampiaskan amarah dengan merusak setidaknya dua mobil mewah milik Sahroni. Pertama, sebuah mobil Lexus RX 450h+ Luxury berwarna hitam yang terparkir di garasi dihantam hingga ringsek – kaca depan belakang pecah dan bodi penyok nyaris tak berbentuk. Kedua, sebuah mobil sport Porsche antik koleksi Sahroni didorong keluar dan kemudian dirubung massa. Kendaraan klasik berwarna merah itu dihancurkan, bahkan beberapa pelaku terlihat mencoba mencopot bagian-bagian mesin dan onderdilnya untuk dijual.
Tidak hanya merusak, massa juga melakukan penjarahan sistematis terhadap isi rumah. Setelah berhasil mendobrak pintu, ratusan orang berhamburan ke tiap ruangan di rumah mewah tersebut. Berbagai barang pribadi dan aset berharga dijarah massa, antara lain:
- Perabotan rumah tangga: Meja, kursi, lemari, kasur, hingga peralatan elektronik seperti AC, kulkas, dan mesin cuci diangkut keluar. Benda-benda pecah belah dan furnitur terlihat diangkut beramai-ramai oleh warga yang menyerbu rumah.
- Barang koleksi: Sahroni dikenal gemar mengoleksi barang mewah, salah satunya figurine patung Iron Man ukuran besar yang dipajang di ruang tamu. Patung Iron Man seharga ratusan juta rupiah itu turut dijarah – massa menumbangkannya, mempreteli bagian-bagiannya, bahkan kepala patung dibawa pulang oleh salah satu pelaku sebagai trofi.
- Barang pribadi dan dokumen: Massa turut menyasar barang-barang pribadi keluarga Sahroni. Pakaian dan tas bermerek dijarah; tak ketinggalan dokumen penting seperti ijazah pendidikan, sertifikat tanah, kartu keluarga, hingga berkas Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) dilaporkan hilang diambil massa. Bahkan sebuah brankas besi milik Sahroni berhasil dicongkel dan isinya dijarah.
- Uang tunai valuta asing: Laporan Media Indonesia menyebutkan bahwa sebagian perusuh menemukan simpanan uang tunai milik Sahroni di dalam rumah. Uang dalam pecahan Dolar Singapura dan lembaran USD 100 diduga diambil dan dibagi-bagikan di antara massa di lokasi. Pemandangan massa berebut uang di depan rumah Sahroni sempat terekam video amatir yang beredar luas.
Kerusakan fisik rumah Sahroni benar-benar total. Bagian dalam rumah berantakan – kaca berserakan, barang berhamburan, lemari jati tumbang, dan kolam renang indoor pun dipenuhi puing. Laporan jurnalis di lapangan menggambarkan nyaris tak ada sudut rumah yang luput dari perusakan. Pasca kejadian, kediaman Sahroni yang biasanya dijaga ketat itu berubah bak rumah hantu – lampu padam, pintu terbuka lebar tanpa daun, dan garis polisi akhirnya dipasang mengelilingi TKP.
Pemerintah pusat merespons cepat menyikapi rangkaian kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah (termasuk di rumah Sahroni). Pada 30 Agustus petang, Presiden Prabowo Subianto memanggil Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto ke kediamannya di Hambalang.
Presiden Prabowo memerintahkan agar diambil langkah tegas terhadap aksi-aksi massa anarkis yang melanda sejumlah wilayah di Tanah Air. Kapolri mengakui dalam dua hari terakhir telah terjadi eskalasi unjuk rasa menjadi kerusuhan, dengan pembakaran gedung dan fasilitas publik di beberapa tempat.
Instruksi Presiden mencakup peningkatan pengamanan obyek vital, penegakan hukum bagi pelaku kerusuhan, serta penggunaan upaya persuasif maupun represif secara terukur untuk memulihkan ketertiban.
TNI pun diperintahkan siaga membantu Polri jika diperlukan. Merespons hal ini, pada malam 30 Agustus, Kepolisian meningkatkan status pengamanan di DKI Jakarta dan kota-kota lain yang dilanda aksi massa, sembari mulai mengidentifikasi aktor-aktor provokator.
Secara karir politik, posisi Sahroni goyah. Hanya setahun menjelang Pemilu berikutnya, ia harus menghadapi konsekuensi politik dari ucapannya. Internal Partai NasDem telah mengambil tindakan cepat dengan merotasi Sahroni dari jabatan Wakil Ketua Komisi III DPR (bidang hukum) menjadi anggota biasa Komisi I. Sahroni pun dikabarkan saat ini kabur ke Singapura.(*)
Add new comment