Kerusuhan Meluas, Massa Serbu dan Jarah Kediaman Uya Kuya dan Eko Patrio

WIB
IST

Usai ucapan kontroversial & isu tunjangan DPR, massa menyerbu rumah Ahmad Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya. Perusakan, penjarahan, dan pembakaran terjadi.

***

Sabtu Sore

Gelombang amarah massa terhadap para wakil rakyat memuncak sejak Sabtu, 30 Agustus 2025. Pada sore hari tersebut, ratusan orang lebih dahulu menggeruduk rumah anggota DPR Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Aksi ini dipicu oleh pernyataan kontroversial Sahroni yang sebelumnya menyebut wacana pembubaran DPR sebagai “ide orang tolol sedunia”, memancing kemarahan publik dan gelombang demonstrasi. Peristiwa penjarahan di rumah Sahroni bahkan sempat disiarkan langsung melalui TikTok dan viral ditonton lebih dari 1,5 juta kali.

Dalam video terlihat massa menerobos masuk, menjarah televisi, perabot rumah, hingga mainan koleksi milik Sahroni. Garasi rumah berisi mobil-mobil mewah miliknya pun dirusak massa dan barang berharga dijarah habis.

Insiden penjarahan rumah Sahroni ini segera menyebar di media sosial dan memicu seruan lanjutan. Di platform X (Twitter), warganet ramai menyinggung dua figur publik lain yang juga anggota DPR, Eko Patrio dan Uya Kuya, yang belakangan turut dianggap menyinggung perasaan rakyat. Sejumlah pengguna bahkan secara terbuka mendorong massa agar menyasar kediaman kedua tokoh tersebut. Beberapa komentar warganet antara lain:

  • "Titip rumahnya Eko sama Uya Kuya," tulis akun @for***, seolah ‘menitip pesan’ agar rumah Eko Patrio dan Uya Kuya menjadi target berikutnya.
  • "Sudah habis jarahannya, besok ke Eko Patrio dan Uya Kuya saja," seru akun @ann***, mengisyaratkan penjarahan di Tanjung Priok sudah usai dan massa diarahkan bergerak ke rumah Eko dan Uya.
  • "Habis ini rumah Eko, Uya Kuya, terus yang joget-joget cari semua," imbuh pengguna @Isk***, menyerukan agar seluruh anggota DPR yang sempat berjoget ikut didatangi massa.

Seruan-seruan di dunia maya ini menandai eskalasi amuk massa yang merembet dari Tanjung Priok ke target berikutnya di Jakarta.

Ratusan Massa Kepung Rumah Eko Patrio di Kuningan

Menjelang petang hingga malam pada Sabtu (30/8), kediaman Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio di Jalan Karang Asem I, Kuningan Timur, Setiabudi, Jakarta Selatan, mulai didatangi massa. Informasi rencana “sweeping” rumah Eko sempat viral sebelumnya, mendorong sekitar 20 personel TNI berjaga di lokasi sejak pukul 21.40 WIB.

Namun, tak sampai 30 menit berselang, ratusan warga yang marah mulai berdatangan. Hingga sekitar pukul 23.00 WIB, lebih dari 500 orang telah berkumpul di sekitar rumah anggota Fraksi PAN tersebut.

Situasi di Kuningan memanas. Aparat TNI berusaha melakukan langkah persuasif, berdialog menenangkan massa di depan kediaman Eko Patrio. Akan tetapi, emosi massa tak terbendung. Dengan meneriakkan yel-yel penuh kemarahan, massa akhirnya merangsek menerobos masuk pekarangan rumah Eko. Menurut pantauan di lapangan, beberapa orang di barisan depan bahkan masuk sambil mengibarkan bendera Merah-Putih seolah menandakan “operasi rakyat” tengah berlangsung.

Begitu pagar dan pintu berhasil didobrak, massa dengan leluasa menjarah isi rumah Eko Patrio. Keterbatasan petugas yang berjaga membuat rumah tersebut diacak-acak dalam hitungan menit. Sejumlah orang tampak keluar masuk rumah membawa apa pun yang bisa diangkut. Barang-barang yang dijarah dari rumah Eko antara lain, Perabot dan barang rumah tangga, bantal, guling, selimut hingga kipas angin diangkut massar. Barang pribadi, koper pakaian dan barang-barang lain yang sempat terjangkau tangan penjarah.

Sambil menjarah, sebagian massa terdengar berteriak dengan nada mengejek, “cair, cair, wooy!” – slang yang terdengar seperti ungkapan kegirangan atas ‘mencairnya’ harta pejabat untuk rakyat. Bahkan ada pula yang berseru, “ini baru namanya perampasan aset sama rakyat!”.

Kalimat tersebut menyiratkan anggapan bahwa aksi mereka adalah bentuk merampas kembali kekayaan pejabat oleh rakyat. Teriakan lain seperti “Hancurkan!” dan “Bongkar, bongkar!” juga terdengar, disusul bunyi kaca pecah dan perabot yang dihancurkan di dalam rumah. Situasi mencekam ini terekam dalam video-video amatir warga yang beredar luas di media sosial pada malam itu.

Berkat kehadiran petugas, aksi massa di Kuningan tidak berlanjut ke pembakaran rumah. Meski demikian, hingga Sabtu malam itu polisi belum merinci kronologi lengkap maupun apa saja barang yang dijarah dari rumah Eko Patrio. Perkembangan situasi di lokasi berangsur kondusif setelah massa puas menjarah dan sebagian besar meninggalkan area menjelang tengah malam.

Penyerbuan dan Pembakaran Rumah Uya Kuya

Tak lama setelah kerusuhan di rumah Eko Patrio mereda, amuk massa beralih ke kediaman Surya Utama alias Uya Kuya di kawasan Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur. Mulai sekitar pukul 23.00 WIB hingga lewat tengah malam (dini hari 31 Agustus 2025), rumah mewah milik presenter yang juga anggota DPR Fraksi PAN itu menjadi sasaran ratusan orang yang berkonvoi menuju lokasi.

Rekaman video viral di media sosial menunjukkan detik-detik pagar rumah Uya Kuya dirobohkan, disusul gelombang orang menyerbu masuk ke dalam. Terdengar teriakan “Bongkar semua!” bersahut-sahutan di antara kerumunan warga yang tersulut emosi.

Sekali masuk, massa langsung menjarah apa saja yang bisa diambil. Berbagai barang berharga milik Uya Kuya diangkut keluar secara beramai-ramai. Berdasarkan laporan di lokasi, barang-barang berikut turut dijarah dari rumah Uya Kuya, Perabot elektronik dan furniture, televisi layar datar, dispenser air minum, kursi tamu, dan perabot rumah tangga lain dibawa kabur massa.

Benda berharga & koleksi pribadi, sepeda, tanaman hias, serta koleksi kucing ras peliharaan pun tak luput dari jarahan. Kucing-kucing kesayangan Uya Kuya beserta kandangnya diangkut massa, padahal menurut Uya harga beberapa di antaranya bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekor.

Selain menjarah, massa juga melakukan perusakan masif. Suara kaca jendela dipecahkan dan dentuman benda dihantamkan ke dinding terdengar berulang kali dari dalam rumah, menambah nuansa horor malam itu.

Puncaknya, api mulai berkobar di dalam rumah Uya Kuya menjelang dini hari. Dari luar, kobaran api terlihat membakar sebagian bangunan. Aksi anarkis ini menjadikan rumah Uya Kuya bukan hanya porak-poranda dijarah, tetapi juga hangus terbakar sebagian. Baru menjelang pagi (31/8), situasi di Pondok Bambu mulai terkendali setelah massa perlahan meninggalkan lokasi.

Baik Uya Kuya maupun Eko Patrio telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di tengah memuncaknya kemarahan publik. Eko Patrio terlebih dulu mengunggah video permohonan maaf pada Sabtu malam (30/8) melalui akun Instagram @ekopatriosuper miliknya, didampingi rekannya sesama anggota DPR, Sigit “Pasha Ungu” Purnomo.

Dalam video tersebut, Eko terlihat menunduk dengan mata berkaca-kaca, berbicara sambil menahan tangis.

“Dengan penuh kerendahan hati, saya Eko Patrio menyampaikan permohonan maaf sedalam-dalamnya kepada masyarakat atas keresahan yang timbul akibat perbuatan yang saya lakukan,” ucapnya lirih.

Ia mengakui perilakunya telah menyinggung dan “membawa luka bagi bangsa” serta berjanji akan lebih berhati-hati ke depan. Eko menegaskan tak berniat memperkeruh keadaan dan berkomitmen memperbaiki diri sebagai wakil rakyat. Permohonan maaf ini disampaikan Eko sekitar pukul 22.24 WIB, tepat di tengah kepungan massa di rumahnya – sayangnya, permintaan maaf tersebut terlambat untuk meredam emosi massa yang sudah telanjur tersulut.

Uya Kuya pun sempat menyusul meminta maaf secara publik sebelum rumahnya diserang massa. Melalui unggahan video di Instagram pribadinya (pada Sabtu 30/8 siang), Uya menyatakan penyesalan atas aksi joget dirinya di gedung DPR/MPR yang dianggap tidak pantas.

“Saya Uya Kuya menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya, tulus dari hati yang paling dalam, untuk seluruh masyarakat Indonesia atas apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini,” tuturnya dalam video tersebut.

Uya mengakui bahwa berjoget ria di forum Sidang Tahunan MPR adalah tindakan keliru dan ia berjanji akan instrospeksi diri. Sayangnya, sama seperti Eko, permintaan maaf Uya tidak mampu menghentikan amarah sebagian warga. Terbukti, beberapa jam setelah video itu diunggah, rumahnya tetap menjadi target penjarahan massa.

Pasca insiden penjarahan dan pembakaran, Uya Kuya menyatakan sikap legawa. Saat dihubungi wartawan pada Sabtu tengah malam, Uya mengonfirmasi bahwa benar rumahnya dijarah massa dan ia “ikhlas saja” menerima musibah tersebut.

“Nggak apa-apa aku ikhlas, cuma yang sedih kucing-kucing, makhluk hidup dijarah,” ujar Uya mengenang hewan peliharaannya yang turut hilang dibawa massa.

Ia mengaku sangat menyayangkan kejadian ini, apalagi menurutnya amuk massa dipicu oleh banyak informasi hoaks yang beredar tentang dirinya. Uya menjelaskan bahwa video dirinya berjoget di Senayan telah digoreng seolah-olah ia merayakan kenaikan gaji dan tunjangan DPR, padahal ia sama sekali tidak pernah membuat pernyataan apa pun soal kenaikan gaji Rp 3 juta seperti narasi hoaks tersebut.

Meski sedih, Uya Kuya menegaskan bahwa yang terpenting keluarganya selamat. Ia, istri, dan anak-anaknya memang sudah tidak berada di lokasi sejak situasi memanas, sehingga tidak ada yang terluka secara fisik.

“Saya insyaallah aman,” imbuhnya memastikan kondisi keluarga baik-baik saja.

Sementara itu, pihak Partai Amanat Nasional (PAN) tempat Eko dan Uya bernaung mengambil langkah internal. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan sempat mengeluarkan maklumat agar semua kader PAN yang duduk di DPR maupun DPRD lebih peka terhadap situasi dan menjaga perilaku di tengah sorotan publik.

Adapun rekan separtai mereka, selebritas Nafa Urbach yang juga anggota DPR, turut menyampaikan permintaan maaf terbuka pada 31 Agustus, meski rumahnya tidak diserang. Nafa memohon maaf atas ucapannya di masa lalu yang mungkin melukai hati rakyat, menyadari situasi panas yang tengah terjadi. Langkah ini diambil Nafa sebagai antisipasi, mengingat namanya sempat disebut-sebut dalam arus protes bersama Eko Patrio dan Uya Kuya.

Motif dan Pemicu Aksi Massa

Rangkaian peristiwa ini tidak terjadi secara spontan, melainkan dipicu oleh akumulasi kekecewaan publik terhadap para elit politik belakangan ini. Pemicu utamanya adalah isu kenaikan fasilitas dan kesejahteraan anggota DPR di tengah kondisi ekonomi rakyat yang sulit. Dalam minggu terakhir Agustus 2025, mencuat kabar tentang kenaikan tunjangan perumahan DPR yang memicu protes luas.

Gelombang unjuk rasa bertajuk “Revolusi Rakyat Indonesia” digelar di depan Gedung DPR/MPR pada 25 Agustus 2025, menolak rencana penambahan tunjangan tersebut. Ribuan orang turun ke jalan saat itu, didominasi elemen buruh dan pelajar, melampiaskan frustrasi terhadap wakil rakyat yang dinilai tidak peka.

Di tengah situasi panas tersebut, sebuah video viral makin menyulut kemarahan publik, video yang menampilkan sejumlah anggota DPR berjoget-joget di ruang sidang usai pidato Presiden Prabowo dalam Sidang Tahunan MPR, 15 Agustus 2025.

Dalam video itu terlihat dua selebritas yang kini anggota DPR dari Fraksi PAN, Eko Patrio dan Uya Kuya, ikut bergoyang riang di barisan anggota dewan. Publik menilai aksi tersebut sangat tidak pantas dan mencerminkan wakil rakyat yang “tidak punya empati” terhadap penderitaan masyarakat.

Apalagi, narasi berkembang bahwa para anggota dewan itu berjoget karena senang mendapat kenaikan gaji atau tunjangan. Hoaks bermunculan di media sosial, mengklaim Uya Kuya menyebut “Rp 3 juta itu kecil” saat menanggapi kenaikan gaji – sebuah informasi palsu yang kian menyulut emosi.

Uya Kuya sudah membantah hal tersebut dan menegaskan tidak pernah ada pembahasan kenaikan gaji Rp 3 juta di DPR, video joget itu, menurutnya, dipelintir dari konteks aslinya (di mana musik paduan suara sedang diputar, bukan untuk merayakan kenaikan gaji). Namun, klarifikasi ini datang terlambat setelah sentimen anti-DPR telanjur meluas.

Selain itu, sikap arogan beberapa pejabat turut menjadi pemicu. Ucapan Ahmad Sahroni yang merendahkan aspirasi pembubaran DPR dengan kata-kata kasar telah membuat publik murka. Sosok Sahroni yang dikenal bergaya hidup mewah – dengan deretan mobil sport di garasinya – menjadi simbol jurang pemisah antara elit dan rakyat kecil. Seruan “Gantung Sahroni dan Eko Patrio” bahkan terdengar di sela-sela unjuk rasa di kawasan Senen, Jakarta Pusat, beberapa hari sebelumnya.

Kombinasi faktor-faktor di atas menciptakan badai sempurna kemarahan sosial. Publik yang merasa suaranya diabaikan melihat aksi langsung terhadap figur-figur DPR sebagai pelampiasan. Rangkaian penyerbuan rumah Sahroni, Eko Patrio, dan Uya Kuya memperlihatkan bagaimana emosi kolektif dapat berubah menjadi tindakan anarkis ketika kepercayaan terhadap wakil rakyat sudah tergerus.(*)

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.