Merefleksikan Diri dengan Makna Idul Fitri

WIB
IST

Oleh

Maimunah Permata Hati Hasibuan

Berbahagialah setiap muslim yang masih diberikan kesempatan menghembus nafas di bumi. Mengapa demikian? Karena setiap tahunnya masih diberikan oleh Allah merayakan idul fitri hari kemenangan setelah berpuasa selama 30 hari lamanya. Anda tahu bahwa idul fitri mungkin masih menjadi sebuah perayaan bagi para masyarakat muslim yang menjadi tradisi shalat idul fitri, makan lontong, berziarah, halal bi halal dan bersilahturahmi. Namun demikian, masih menjadi tabu bilamana masyarakat masih banyak yang belum memahami makna idul fitri yang lebih penting jiwanya dibanding sebuah menjalankan tradisi belaka.

Manusia tidak luput dari dosa dan kesempurnaan adalah milik Allah SWT. Maka dari itu, manusia yang berbahagia adalah manusia yang masih diberikan kesempatan untuk bertaubat oleh Allah SWT. Melalui idul fitri inilah manusia perlu memahami bahwa ada rasa sebuah jiwa yang terpanggil oleh naluri yang diniatkan dari hati nuraninya untuk bertaubat dari dosa. Jadilah pribadi yang kembali ke fitrahnya yang suci dengan uluran permintaan maaf ke setiap insan manusia dengan bersilahturahmi. Perlu kita ketahui bahwa berbuat salah kepada manusia sebetulnya lebih sulit daripada berbuat salah kepada Allah SWT. Kita tahu bahwa setiap dari kita tidak bisa mengukur dalamnya hati manusia. Boleh jadi, manusia yang kita dzalimi tidak ikhlas memaafkan kita maka begitu sulit berbuat salah kepada sesama manusia. Jika kita meminta maaf kepada Allah SWT dengan shalat taubat dan berdoa hingga menitihkan air mata dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, Allah SWT akan memaafkan karena memang Allah SWT adalah Tuhan yang mempunyai sifat pemaaf dan rasa kasih sayang yang amat besar terhadap hambanya. 

Melalui kedua tangan kita dan mengucap takbir “Allahu Akbar” dan melalui sujud kita kepada-NYA serta niat yang baik dan kembalilah bersih seperti pakaian baru tanpa noda. Maka, kesimpulan yang dapat kita petik dari makna idul fitri yang perlu kita ketahui adalah islam memiliki ajaran yang membentengkan dua bentuk hubungan yang harmonis membawa kemuliaan dan keselamatan manusia di sisi Allah subhanahu wata’ala.Menurut almarhum Prof Lias Hasibuan, MA adalah: Pertama, tata hubungan yang mengatur antara manusia dengan Tuhannya dalam hal ibadah (ubudiyah) atau yang populer dikatakan dengan hablum minallah dan yang kedua, tata hubungan yang mengatur antara manusia dengan makhluk antara manusia dengan makhluk lainnya dalam amaliyah sosial. Menurut surah An-Nisa ayat ke-36 yang artinya:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-NYA dengan sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sayahamu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan-banggakan diri”. 

Ayat tersebut mengandung dua bentuk akhlak, yaitu akhlak kepada Allah (hablum minallah) yang ditunjukkan dengan perintah agar kita menjalin hubungan baik kepada Allah dengan cara tidak menyekutukan-NYA dengan yang lain serta akhlak terhadap sesama manusia (hablum minannas) yang ditunjukkan dengan perintah berbuat baik kepada kedua orangtua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh teman sejawat dan orang yang dalam perjalanan dan hamba sahaya.

Penutup dari artikel ini, maka semoga dari 30 hari kita berpuasa ini diterima oleh Allah SWT dan kita kembali suci seperti pakaian baru tanpa noda di hari idul fitri ini. Semoga dari momentum puasa dan idul fitri ini menjadikan kita hamba yang cerdas. Menurut Prof Bahrul Ulum, MA saat mengisi tausiyah pada buka puasa bersama di kampus ITS-NU Jambi mengatakan bahwa penentu kecerdasan manusia adalah berasal dari kecerdasan spritual dan kecerdasan emosional.Kecerdasan spiritual adalah salah satu bentuk upaya manusia dalam menemukan harapan, makna, dan ketenangan dalam hidupnya. 

Melalui sembah sujud kita kepada-NYA dan merefleksikan diri kita terhadap makna ramadhan dan tradisi idul fitri ini bukan hanya sekedar budaya kebiasaan saja, melainkan mendalami makna agar emosional kita lebih intuisi lagi. Semoga kita semua senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Amin

Add new comment

Restricted HTML

  • Allowed HTML tags: <a href hreflang> <em> <strong> <cite> <blockquote cite> <code> <ul type> <ol start type> <li> <dl> <dt> <dd> <h2 id> <h3 id> <h4 id> <h5 id> <h6 id>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Web page addresses and email addresses turn into links automatically.